Selasa, 13 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Perlu Percepat Transformasi Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi Vietnam unggul atas Indonesia karena efisiensi ekspor, investasi terintegrasi, dan kawasan industri yang lebih luas, memaksa Indonesia mempercepat transformasi melalui digitalisasi dan teknologi tinggi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 13 Oktober 2026, 15.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Indonesia Perlu Percepat Transformasi Ekonomi📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pertumbuhan ekonomi Vietnam yang mencapai hingga 9 persen dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan keunggulan signifikan dibandingkan Indonesia, yang rata-rata berkisar di angka lima persen. Faktor utamanya terletak pada kemampuan Vietnam mengubah investasi asing menjadi kapasitas produksi ekspor yang efektif, khususnya di sektor manufaktur elektronik dan teknologi. Sebaliknya, ekonomi Indonesia masih didominasi oleh konsumsi domestik dan ekspor komoditas, dengan investasi yang belum sepenuhnya mengarah pada peningkatan kapasitas manufaktur berorientasi ekspor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menekankan perlunya percepatan transformasi ekonomi nasional melalui penguatan digitalisasi, pengembangan industri semikonduktor, serta pemanfaatan kecerdasan buatan. Ia menyatakan bahwa untuk mengejar ketertinggalan dari Vietnam, Indonesia harus bergerak lebih cepat dalam membangun ekosistem industri modern yang mampu bersaing di pasar global. Keberhasilan tersebut, menurutnya, tidak bisa dicapai tanpa perubahan mendasar dalam kebijakan dan eksekusi program.

Perbedaan besar terlihat dari luas kawasan ekonomi khusus (KEK) yang dimiliki kedua negara. Vietnam memiliki sekitar dua juta hektare KEK, sementara Indonesia baru mencapai sekitar 24 ribu hektare. Dengan infrastruktur dan kawasan industri yang lebih luas dan terintegrasi, Vietnam mampu menarik relokasi rantai pasok global, terutama dari Tiongkok dan negara Asia Timur lainnya. Investasi yang masuk pun lebih banyak mengarah pada pembangunan kapasitas produksi eksportir, bukan hanya memenuhi pasar lokal.

Pengamat ekonomi dari Universitas Andalas menyoroti bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan struktural, termasuk biaya logistik tinggi, perizinan berlapis, serta kurangnya tenaga kerja terampil. Selain itu, keberadaan pasar domestik yang besar justru menjadi penghambat bagi transformasi, karena investor lebih memilih memenuhi permintaan lokal daripada membangun kapasitas ekspor. Dalam konteks ini, Vietnam dinilai lebih unggul karena menawarkan kepastian eksekusi, sementara Indonesia masih lebih banyak menawarkan potensi tanpa jaminan pelaksanaan nyata.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya