Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Resmi Jadi Pemimpin Global dalam Implementasi B50

Pemerintah mencatat penyaluran biodiesel B50 nasional mencapai 80% hingga akhir Agustus 2026, menyusul target penerapan penuh 1 Oktober.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 15.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Indonesia Resmi Jadi Pemimpin Global dalam Implementasi B50
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pencapaian penyaluran biodiesel B50 secara nasional telah mencapai 80% pada akhir Agustus 2026, seiring dengan tersisa waktu satu bulan menuju pelaksanaan mandatori penuh pada 1 Oktober mendatang. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pengawasan dan evaluasi terus diperkuat di lapangan guna menjamin kelancaran distribusi dan ketersediaan pasokan bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Dari sisi distribusi, Pertamina mencatat capaian terdepan dengan tingkat penyaluran mendekati 90%, jauh melampaui rata-rata nasional. Sementara perusahaan swasta lainnya berada pada angka sekitar 80%, menunjukkan progres signifikan namun masih memerlukan penyesuaian akhir. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi menegaskan bahwa monitoring dan evaluasi akan diperbanyak dalam satu bulan terakhir sebagai bagian dari persiapan matang sebelum implementasi penuh.

Penerapan B50 sebagai bahan bakar solar telah resmi diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026 di Karawang, Jawa Barat. Acara ini dihadiri oleh sejumlah menteri kabinet, termasuk Menteri ESDM, Menteri Investasi & Hilirisasi, Menko Perekonomian, serta Direktur Utama Pertamina. Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50 secara nasional.

Ia menekankan bahwa keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian teknologi, melainkan bukti nyata kemampuan bangsa mengolah sumber daya alam lokal—khususnya minyak kelapa sawit—untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Dengan demikian, Indonesia menegaskan komitmen terhadap kemandirian energi, mengurangi ketergantungan impor, serta memperkuat nilai tambah sumber daya nasional.

Prabowo menegaskan bahwa kemandirian suatu negara dibangun dari tiga pilar utama: ketersediaan pangan, energi mandiri, dan akses air. Ia menyampaikan bahwa kebijakan B50 merupakan bagian dari visi strategis sejak masa sebelum menjabat presiden, termasuk masa kepengurusan HKTI dan menjabat menteri pertahanan. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirahim, ia secara resmi meluncurkan program B50 sebagai tonggak penting dalam perjalanan kemandirian energi Indonesia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya