Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Korban Banjir Nepal-China Tembus 750 Orang, 3.000 Lebih Masih Hilang

Jumlah korban tewas akibat banjir bandang di perbatasan Nepal-China mencapai 750 orang, dengan lebih dari 3.000 lainnya masih hilang hingga Minggu (30/8).

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.41 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Korban Banjir Nepal-China Tembus 750 Orang, 3.000 Lebih Masih Hilang📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kematian akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet telah melampaui angka 750 jiwa, menurut laporan resmi dari otoritas kedua negara pada akhir pekan ini. Peningkatan jumlah korban tewas tercatat dari 670 menjadi 734 di Nepal, sementara di wilayah Tibet, China, setidaknya 16 nyawa meregang akibat bencana tersebut. Data terbaru juga menunjukkan bahwa lebih dari 3.000 orang masih belum ditemukan, termasuk ratusan warga negara asing yang berada di lokasi terdampak.

Di Nepal, sebanyak 2.498 orang masih dalam status hilang, termasuk ratusan warga asing yang sedang berada di kawasan rawan bencana saat kejadian. Sementara di wilayah Tibet, 546 orang belum ditemukan, dengan 261 di antaranya merupakan pendatang asing, termasuk 18 warga negara Amerika Serikat. Bencana yang terjadi pada Rabu (26/8) menimbulkan kerusakan luas di jalur transportasi, fasilitas publik, dan pemukiman di sepanjang aliran Sungai Lhende Khola, yang mengalir melintasi wilayah Nepal dan Tibet.

Awalnya, dugaan kuat menyebutkan gempa bumi sebagai penyebab longsoran es dan batuan yang memicu banjir bandang. Namun, hasil analisis dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menegaskan bahwa tidak tercatat aktivitas gempa sebelum insiden terjadi. Hal ini menimbulkan pertanyaan terhadap asumsi awal dan menekankan pentingnya pemantauan geologis yang lebih ketat di wilayah pegunungan rawan bencana.

Kegiatan pencarian dan penyelamatan masih berlangsung intensif di kedua sisi perbatasan, meskipun kondisi medan yang terjal dan cuaca ekstrem menjadi penghambat utama. Otoritas setempat mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menghindari area berisiko tinggi, sementara lembaga bantuan internasional mulai menyiapkan logistik dan dukungan medis untuk mempercepat proses evakuasi dan pertolongan korban.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya