Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kredit Mengendap Rp2,5 Triliun, BI Dorong Perbankan Cairkan Fasilitas

Fasilitas kredit yang belum dicairkan mencapai Rp2,548 triliun hingga Juli 2026, didorong BI untuk segera disalurkan melalui insentif dan kebijakan GWM.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 15.42 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
Kredit Mengendap Rp2,5 Triliun, BI Dorong Perbankan Cairkan Fasilitas📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Fasilitas kredit yang telah disiapkan oleh perbankan namun belum disalurkan ke masyarakat atau pelaku usaha masih berada pada level tinggi, mencapai Rp2,548 triliun hingga Juli 2026. Angka ini menjadi perhatian utama Bank Indonesia (BI), yang menilai kondisi tersebut mencerminkan belum pulihnya permintaan kredit dari sektor swasta meski sejumlah proyek pemerintah terus menyerap dana. Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa pertumbuhan kredit hingga kuartal II tahun ini masih didominasi aktivitas yang dipicu oleh belanja pemerintah.

Meski demikian, terdapat indikasi perbaikan dari sisi permintaan kredit di sektor swasta. Menurut Destry, aktivitas dunia usaha mulai membaik, yang berdampak pada peningkatan minat perusahaan untuk mengajukan pembiayaan. Hal ini menjadi pertanda bahwa roda ekonomi mulai bergerak lebih merata, tidak lagi bergantung sepenuhnya pada stimulus dari sektor publik. BI mencatat bahwa tren ini perlu diperkuat agar pertumbuhan kredit lebih inklusif dan berkelanjutan.

Di sisi lain, BI memperhatikan perilaku perbankan dalam menempatkan likuiditas. Sejumlah institusi keuangan memilih menginvestasikan dana likuiditas ke instrumen surat berharga, seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), ketimbang menyalurkannya sebagai kredit. Untuk mengubah pola tersebut, BI menerapkan kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) yang memberikan insentif bagi bank yang agresif menyalurkan kredit, sementara bank yang menahan likuiditas di surat berharga akan kehilangan insentif.

Kebijakan ini dirancang untuk mendorong perputaran dana dari sektor perbankan ke sektor riil. Hasilnya terlihat dari pertumbuhan kredit perbankan yang pada Agustus 2026 mencapai 13,6% secara tahunan. Peningkatan ini didorong utama oleh kredit investasi dan kredit modal kerja yang mengalir ke sektor produktif, menandakan bahwa pembiayaan mulai digunakan untuk ekspansi produksi dan peningkatan kapasitas usaha.

Destry menilai perkembangan ini menjadi sinyal positif bahwa kredit yang disalurkan kini lebih berdampak pada pertumbuhan ekonomi riil. Dengan terus mendorong penyaluran kredit ke sektor produktif, BI berharap dapat mempercepat pemulihan ekonomi secara menyeluruh, sekaligus memanfaatkan fasilitas likuiditas yang saat ini mengendap di perbankan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya