Senin, 21 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Krisis 1997 Terulang? HSBC Soroti Tiga Tanda Peringatan Global

HSBC memperingatkan adanya tiga kemiripan kunci antara kondisi pasar saat ini dan masa menjelang krisis keuangan Asia 1997, meski ekonomi Asia kini lebih kuat secara fundamental.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 09.18 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Krisis 1997 Terulang? HSBC Soroti Tiga Tanda Peringatan Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - HSBC mengungkapkan kekhawatiran terhadap tren global yang menunjukkan kesamaan dengan periode sebelum krisis keuangan Asia tahun 1997. Salah satu indikator utama yang disoroti adalah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, khususnya pada tenor 10 tahun. Sejak level terendah sekitar 0,5% pada Agustus 2020, yield tersebut telah naik menjadi 4,79% pada awal 2024, meningkat sekitar 80 basis poin sepanjang tahun. Pergerakan ini mencerminkan tekanan inflasi dan kebijakan moneter ketat AS, yang memicu perhatian terhadap potensi ketegangan likuiditas global.

Kemiripan kedua terlihat dari penurunan nilai tukar yen Jepang terhadap dolar AS. Pada Januari 2021, kurs yen berada di sekitar 103 per dolar, lalu melemah hingga menyentuh level 163 pada Juli 2024—penurunan sekitar 57%. Meskipun intervensi bersama antara otoritas AS dan Jepang berhasil menstabilkan kurs ke sekitar 160, pergerakan tersebut menimbulkan kekhawatiran atas keberlanjutan kebijakan moneter global dan risiko spekulasi mata uang.

Di tengah dinamika tersebut, ekonom HSBC Frederick Neumann menyoroti pergeseran euforia pasar dari teknologi internet pada era 1990-an ke kecerdasan buatan (AI) saat ini. Ia menyamakan antusiasme terhadap inovasi teknologi saat ini dengan momentum yang mendorong gelembung spekulatif sebelum krisis 1997. Namun, ia menekankan bahwa kondisi ekonomi Asia kini jauh lebih tangguh dibandingkan era tersebut.

Kini, Asia bukan lagi importir modal seperti dulu, melainkan eksportir modal yang memiliki cadangan devisa dan struktur ekonomi lebih stabil. Meski demikian, kerentanan baru muncul dari ketergantungan ekspor teknologi tinggi, terutama komponen perangkat keras yang dibutuhkan untuk pengembangan AI. Jika permintaan di AS melambat, maka ekspor elektronik dari Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Singapura bisa terdampak, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan kawasan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya