Kamis, 10 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kuba Tuding AS Picu Krisis Energi dan Ekonomi 2025

Kuba mengklaim kebijakan AS di era Trump menyebabkan kerugian ekonomi hingga US$8,1 miliar pada 2025, sambil menegaskan tak ada perundingan dengan Washington meski tetap terbuka atas komunikasi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 07.33 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 6x dibuka
Kuba Tuding AS Picu Krisis Energi dan Ekonomi 2025📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Kuba mengungkapkan bahwa kebijakan ekonomi Amerika Serikat pada masa kepemimpinan Donald Trump telah menimbulkan kerugian sebesar US$8,1 miliar—setara Rp143,37 triliun—pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan 7% dibandingkan tahun sebelumnya, menurut pernyataan resmi dari Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, yang menekankan bahwa kebijakan blokade perdagangan tetap berdampak signifikan terhadap kehidupan rakyat.

Rodriguez menegaskan bahwa saat ini tidak ada proses perundingan atau agenda negosiasi baru dengan Amerika Serikat, meskipun tetap ada keinginan untuk menjaga komunikasi. Ia menyoroti bahwa embargo yang berlangsung puluhan tahun kini semakin memperparah kondisi ekonomi dan sosial, terutama setelah adanya pembatasan pasokan minyak yang berdampak langsung pada produksi energi nasional.

Dampaknya terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kuba melaporkan bahwa pasokan listrik hanya tersedia dua hingga tiga jam per hari, bahkan lebih singkat di beberapa wilayah. Kondisi ini memicu pemadaman berkepanjangan yang mengganggu aktivitas, memperburuk suhu panas, serta menyebabkan makanan cepat membusuk. Anak-anak pun terpaksa belajar dalam kondisi gelap, sementara akses air bersih dan energi terus terancam.

Badan PBB telah memperingatkan adanya risiko meluasnya wabah penyakit akibat kondisi kesehatan dan akses dasar yang memburuk. Pemerintah AS sendiri belum memberikan respons resmi terhadap pernyataan Rodriguez, namun sebelumnya menyatakan bahwa sanksi diperlukan untuk mendorong perubahan politik di Kuba. Di sisi lain, media internasional melaporkan bahwa lonjakan kasus diare dan infeksi usus di Kuba dikaitkan dengan gangguan pasokan air dan listrik, menunjukkan bahwa konflik bilateral telah merambah ke ranah kemanusiaan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya