Rabu, 30 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Makan Terpisah Tak Hambat Kedekatan Pasangan

Tren makan terpisah dalam hubungan pasangan bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk otonomi yang sehat jika dilandasi komunikasi dan pilihan sadar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 30 September 2026, 15.37 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Makan Terpisah Tak Hambat Kedekatan Pasangan📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Tren makan terpisah di kalangan pasangan kini menjadi perbincangan di berbagai forum kehidupan rumah tangga. Bukan karena konflik, melainu karena masing-masing individu memilih menyajikan dan menikmati makanan sesuai preferensi pribadi. Psikolog berlisensi Brittany Woolford menjelaskan bahwa ketika pasangan memutuskan untuk tidak lagi memaksa makan bersama, mereka justru bisa menghindari beban emosional yang muncul dari perdebatan soal menu atau kebiasaan memasak. Hal ini menjadi bentuk penyesuaian realistis terhadap perbedaan gaya hidup dan kebutuhan pribadi.

Pola ini tidak selalu berarti hubungan mengalami krisis. Justru, menurut Woolford, memungkinkan masing-masing pihak menangani aspek makan secara mandiri—mulai dari belanja bahan, memasak, hingga menyantap tanpa beban yang tidak seimbang. Khususnya bagi pasangan dengan jadwal kerja yang tidak sinkron atau kondisi kesehatan seperti alergi makanan, makan terpisah justru menjadi praktik wajar yang mendukung kesejahteraan.

Dalam perspektif terapi keluarga, Emily Longo menekankan bahwa keterikatan emosional tidak harus dibangun melalui aktivitas makan bersama. Ritual seperti berbincang pagi hari, jalan-jalan sore, atau duduk bersama sebelum tidur justru lebih efektif dalam mempertahankan kedekatan. Makan terpisah tidak mengurangi kualitas hubungan selama komunikasi tetap terjaga dan ada ruang bagi interaksi yang bermakna.

Para ahli juga menyarankan untuk tetap mempertahankan satu atau dua waktu makan bersama dalam seminggu, tanpa gangguan dari gadget atau aktivitas lain. Dengan fokus penuh pada interaksi, momen tersebut bisa menjadi sarana memperdalam hubungan, bahkan jika makanannya berbeda. Longo menegaskan, yang penting bukan piringnya terpisah, melainkan kehidupan yang tetap terhubung secara emosional dan kualitatif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya