Rabu, 30 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

<Tantangan Bahan Baku Kendalikan Pengembangan Bioetanol di RI>

<Ketersediaan bahan baku menjadi hambatan utama pengembangan bioetanol di Indonesia, menurut pakar dari Universitas Pertamina, yang menekankan butuh waktu hingga 10 tahun dan pertimbangan impor untuk implementasi E10 dan E20.>

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 30 September 2026, 15.21 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
<Tantangan Bahan Baku Kendalikan Pengembangan Bioetanol di RI>📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pengembangan bioetanol di Indonesia menghadapi tantangan mendasar terkait ketersediaan bahan baku yang cukup. Menurut pakar dari Universitas Pertamina, proses produksi bioetanol membutuhkan sumber bahan baku yang melimpah, namun saat ini belum tersedia dalam jumlah yang memadai dibandingkan dengan biodiesel. Ia menekankan bahwa ketersediaan bahan baku bukan sekadar soal jumlah, melainkan juga ketersediaan lahan dan sistem produksi yang terintegrasi.

Proses pengembangan bioetanol tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan waktu panjang mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga panen, yang diperkirakan memakan waktu minimal lima hingga sepuluh tahun. Hal ini menunjukkan bahwa realisasi program bioetanol bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga membutuhkan komitmen jangka panjang dalam pengelolaan sumber daya alam dan infrastruktur pertanian.

Pertanyaan muncul terkait rencana implementasi bahan bakar campuran E10 dan E20. Ia menyoroti bahwa tanpa pasokan bahan baku dalam jumlah besar, target tersebut sulit tercapai secara nasional. Dalam kondisi tersebut, Indonesia kemungkinan harus mengimpor bahan baku, yang menimbulkan pertimbangan ekonomi dan ketergantungan pada pasar global. Ia menekankan bahwa kebijakan impor harus dipertimbangkan secara matang, terutama jika ada alternatif yang lebih murah dan efisien.

Pakar ini juga menekankan bahwa keberhasilan program bioetanol tidak bisa dilepaskan dari kesiapan infrastruktur, kebijakan pendukung, dan keterlibatan sektor pertanian. Tanpa dukungan menyeluruh dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan industri, target penggunaan bahan bakar berkelanjutan akan sulit dicapai. Ia menegaskan bahwa keberhasilan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga ketersediaan sumber daya yang berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya