Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Maskapai Dorong Bebas Bea Impor Suku Cadang Pesawat

Industri penerbangan meminta pembebasan bea impor suku cadang pesawat untuk menekan biaya operasional di tengah tekanan harga avtur dan belum pulihnya jumlah penumpang domestik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 15.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Maskapai Dorong Bebas Bea Impor Suku Cadang Pesawat📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Industri penerbangan nasional kembali mengajukan permintaan kebijakan mendukung efisiensi operasional, dengan menekankan perlunya pembebasan bea impor atas suku cadang pesawat terbang. Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menegaskan bahwa biaya operasional yang tinggi, terutama akibat kenaikan harga avtur dan belum pulihnya permintaan penumpang domestik, memaksa maskapai untuk mencari solusi tanpa mengorbankan keselamatan penerbangan. Permintaan ini telah disampaikan kepada Direktorat Jenderal Bea Cukai dan kini menunggu turunan aturan teknis dari Kementerian Keuangan.

Proses implementasi pembebasan pajak impor untuk komponen pesawat masih menunggu terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) sebagai aturan pelaksana dari Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 16. INACA menyatakan bahwa keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada penyelesaian tahap eksekusi di lapangan, terutama di tingkat Bea Cukai. Dengan terbitnya PMK, diharapkan biaya operasional maskapai dapat turun signifikan, terutama dalam aspek perawatan dan pemeliharaan pesawat.

Kenaikan harga bahan bakar akibat ketegangan geopolitik kembali memperparah tekanan finansial industri. Meski sebelumnya telah diberlakukan skema fuel surcharge yang mencapai 40%, hal itu belum cukup menopang pergerakan biaya yang terus naik. Maskapai menaruh harapan besar pada periode libur Natal dan Tahun Baru sebagai momentum pemulihan pendapatan, namun tetap mempertimbangkan risiko kenaikan harga energi yang bisa mengancam kinerja keuangan.

Di sisi lain, Pelita Air menyoroti pentingnya menjaga standar keselamatan meski dalam kondisi tekanan biaya tinggi. Direktur Safety Eriza Muslim menegaskan bahwa efisiensi tidak boleh dilakukan dengan mengurangi aspek keselamatan. Solusi yang dikembangkan meliputi penerapan prosedur penerbangan ramah lingkungan seperti Continuous Descent Operation (CDO) dan pengendalian kecepatan saat pendekatan. Upaya ini telah diterapkan di negara-negara maju seperti Singapura dan Australia, serta diharapkan bisa mengurangi konsumsi bahan bakar hingga signifikan.

Peningkatan disiplin pilot dan revitalisasi sistem navigasi udara melalui AirNav juga dinilai sebagai faktor penting dalam mengurangi kemacetan lalu lintas udara, khususnya di kawasan padat seperti Jakarta. Dengan pengelolaan lalu lintas yang lebih terkoordinasi, efisiensi operasional dapat ditingkatkan tanpa mengorbankan keamanan. Langkah-langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang maskapai untuk bertahan di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya