Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Tertekan di Sesi I, Anjlok 0,83%

Indeks Harga Saham Gabungan turun 50,44 poin atau 0,83% ke level 6.020,70 pada penutupan sesi pertama hari ini, dipengaruhi tekanan jual dan koreksi sektor teknologi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 12.16 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Tertekan di Sesi I, Anjlok 0,83%📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada sesi perdagangan pertama hari ini, Kamis (1/10/2026), dengan penurunan sebesar 50,44 poin atau 0,83% ke level 6.020,70. Pergerakan ini terjadi meski pada awal sesi indeks sempat menguat dan mencapai puncak harian di 6.095,23. Namun, dominasi penjualan membuat indeks kembali melemah, menembus ambang 6.030 dan sempat menyentuh titik terendah harian di 6.018,79 sebelum stabil di kisaran 6.020–6.030 menjelang waktu penutupan sesi pertama.

Volume perdagangan mencapai sekitar 192,65 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp4,9 triliun, menunjukkan aktivitas pasar yang cukup tinggi meski bergerak dalam tekanan. Pelemahan indeks didorong oleh penurunan signifikan pada sektor teknologi yang turun 1,9%, disusul utilities sebesar 1,7% dan konsumer kritikal dengan penurunan 1,6%. Beberapa emiten besar menjadi pemicu penurunan, termasuk GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), DCI Indonesia (DCII), Telkom (TLKM), United Tractors (UNTR), dan Amman Mineral (AMMN).

Di sisi lain, beberapa emiten berhasil menahan koreksi pasar, menjadi penopang utama IHSG. PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Energi Mega Persada (ENRG), VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR), Adaro Andalan Indonesia (AADI), dan Golden Energy Mines (GEMS) menjadi saham-saham yang mampu bertahan atau bahkan menguat dalam kondisi pasar yang menekan. Pergerakan ini mencerminkan perbedaan sentimen antar sektor dan kapitalisasi pasar.

Pelaku pasar dalam negeri memantau berbagai data ekonomi penting hari ini, termasuk rilis PMI manufaktur, neraca perdagangan, dan data inflasi. Di sisi global, volatilitas pasar tetap tinggi akibat ketegangan geopolitik yang masih berlanjut. Meski demikian, sentimen positif dari penguatan sektor manufaktur di China dan inflasi PCE AS yang lebih rendah dari perkiraan, serta revisi naik pertumbuhan ekonomi AS, memberi ruang bagi koreksi jangka pendek.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya