Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Michael Bambang Hartono Wafat di Singapura, Warisan Keluarga Djarum Terus Berlanjut

Pengusaha legendaris Michael Bambang Hartono meninggal dunia pada usia 86 tahun di Singapura, meninggalkan warisan bisnis yang luas, termasuk saham dominan di BCA dan portofolio lintas sektor.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 23.30 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 51x dibuka
Michael Bambang Hartono Wafat di Singapura, Warisan Keluarga Djarum Terus Berlanjut📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Michael Bambang Hartono, tokoh bisnis Indonesia yang dikenal sebagai salah satu pendiri dan pemimpin Grup Djarum, tutup usia di Singapura pada 19 Maret 2026. Ia meninggal dalam usia 86 tahun, setelah menjalani perjalanan panjang dalam dunia usaha yang dimulai dari keluarga pendiri Djarum, Oei Wie Gwan. Kepemimpinan Michael bersama sang adik, Robert Budi Hartono, menjadi fondasi keberlanjutan dan ekspansi bisnis keluarga yang kini mencakup sektor perbankan, elektronik, properti, teknologi, dan investasi digital.

Kehidupan bisnis Michael tidak berjalan mulus sejak awal. Pada 1963, pabrik Djarum dilanda kebakaran besar, disusul wafatnya sang ayah. Namun, dalam kondisi sulit tersebut, ia dan Budi Hartono berhasil merebut kembali kendali dan membangun kembali perusahaan dari nol. Dari basis rokok kretek, Djarum berkembang menjadi salah satu merek terbesar di Indonesia, lalu memperluas kehadiran ke pasar internasional. Diversifikasi bisnis pun dimulai, termasuk pendirian Polytron, investasi di sektor perkebunan, telekomunikasi, dan digital.

Salah satu sumber kekayaan terbesar Michael berasal dari kepemilikan saham di PT Dwimuria Investama Andalan, perusahaan holding keluarga yang mengendalikan PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Berdasarkan data BCA, Dwimuria menguasai 54,94 persen saham BCA, dengan Michael memiliki bagian 49 persen dari kepemilikan Dwimuria. Secara tidak langsung, ia menguasai sekitar 28 persen saham BCA, menjadikan bank tersebut sebagai aset utama dalam portofolio keluarga. Menurut estimasi Forbes per 10 Maret 2026, kekayaan pribadi Michael mencapai US$18,9 miliar atau sekitar Rp337,8 triliun, mengacu pada kurs Rp17.870 per dolar AS.

Setelah wafat, kepemilikan saham keluarga di Dwimuria dialihkan kepada empat anak Michael, masing-masing menerima bagian 49 persen dari saham Dwimuria. Perkiraan nilai warisan per anak mencapai US$2,93 miliar atau Rp52,37 triliun, dengan total nilai warisan mencapai sekitar US$11,72 miliar. Nilai ini merupakan estimasi berdasarkan saham yang diwariskan, bukan nilai tunai yang diterima langsung. Nilai tersebut dapat berubah seiring fluktuasi pasar saham dan aset perusahaan.

Dengan kepergian Michael, warisan bisnis keluarga Hartono tidak hanya berlanjut secara struktural, tetapi juga tetap menjadi bagian penting dari peta ekonomi nasional. Dari Djarum hingga BCA, Polytron, dan Blibli melalui Global Digital Niaga, bisnis yang dibangun selama puluhan tahun tetap menjadi fondasi kekuatan ekonomi Indonesia. Michael juga dikenal sebagai penggemar bridge, bahkan meraih medali perunggu di Asian Games 2018 pada usia 78 tahun, menunjukkan semangat dan dedikasi yang tidak pernah padam hingga akhir hayatnya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya