Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

MSCI Didesak Evaluasi Kembali Keputusannya Terhadap Pasar Saham Indonesia

Ketua Banggar DPR menyoroti respons MSCI terhadap pasar modal Indonesia yang memicu koreksi tajam, menekankan perlunya evaluasi proporsional dan komunikasi timbal balik dengan otoritas lokal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 15.29 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 29x dibuka
MSCI Didesak Evaluasi Kembali Keputusannya Terhadap Pasar Saham Indonesia📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah, menyoroti dampak kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap stabilitas pasar saham Indonesia, terutama setelah indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 11,57 persen pada 16 Oktober 2026. Ia menekankan bahwa meski perbaikan tata kelola pasar modal merupakan kebutuhan mendesak, respons MSCI yang berdampak langsung pada volatilitas pasar dinilai tidak sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Menurutnya, keputusan lembaga global tersebut harus dievaluasi secara kritis, bukan diterima tanpa tanya.

Said menegaskan bahwa MSCI bukan otoritas mutlak yang tak bisa dikritik. Ia menekankan pentingnya hubungan komunikatif antara otoritas pasar Indonesia—termasuk Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)—dengan MSCI. Upaya pembenahan, seperti peningkatan batas *free float* secara bertahap hingga 25 persen berdasarkan kapitalisasi pasar dan penjatuhan ratusan sanksi kepada pelanggar pasar, seharusnya mendapat pengakuan yang proporsional. Namun, menurutnya, MSCI belum memberikan apresiasi yang setara terhadap kemajuan tersebut.

Sebaliknya, lembaga lain seperti FTSE Russell memilih mempertahankan Indonesia dalam kelompok Secondary Emerging Market, termasuk negara-negara seperti China, India, Filipina, Vietnam, dan Arab Saudi. Hal ini menurut Said menunjukkan bahwa pemeringkatan tidak selalu bersifat kaku, melainkan bisa memperhitungkan langkah-langkah perbaikan yang telah dilakukan. Ia mempertanyakan mengapa MSCI tidak mengikuti pendekatan serupa, terutama mengingat Indonesia telah melakukan reformasi signifikan dalam klasifikasi investor dan penguatan pengawasan.

Said juga memperhatikan dinamika pasar saat IHSG terpuruk, di mana investor asing justru melakukan pembelian senilai Rp9,18 triliun. Ia menekankan bahwa meskipun tidak menuduh MSCI sengaja memicu koreksi, dampak kebijakannya secara tidak langsung membuka peluang bagi *hedge fund* untuk memperoleh keuntungan dari volatilitas. Ia menekankan bahwa evaluasi terhadap MSCI harus mencakup konsistensi dan dampak sistemik, bukan hanya fokus pada indikator teknis.

Terakhir, Said mengingatkan bahwa proses perbaikan pasar modal bukan berarti harus mengorbankan stabilitas. Ia menyamakan upaya ini dengan mencari jarum di tengah persawahan yang sedang menguning—proses pencarian harus dilakukan dengan hati-hati agar hasilnya tidak merusak aset yang sedang berkembang. Ia menekankan pentingnya menyeimbangkan koreksi struktural dengan perlindungan terhadap kestabilan pasar, demi kepentingan jangka panjang sistem keuangan nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya