MSCI Kaji Penurunan Status Pasar Saham Indonesia
MSCI menyatakan pertimbangan penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia ke status standalone akibat kekhawatiran soal transparansi kepemilikan dan penegakan aturan yang lemah.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 21.00 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 21x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengungkap alasan di balik konsultasi terkait kemungkinan penurunan peringkat klasifikasi pasar modal Indonesia menjadi standalone market. Menurut Managing Director MSCI, Raman Aylur Subramanian, langkah ini muncul sebagai respons terhadap sejumlah isu krusial yang menyangkut integritas pasar, termasuk kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham dan adanya dugaan manipulasi perdagangan. Ia menekankan bahwa persoalan yang dihadapi bukan hanya soal indeks, melainkan mencerminkan kondisi sistemik di pasar modal nasional.
Dalam forum diskusi bersama investor yang digelar oleh UBS Group AG, Subramanian menegaskan bahwa evaluasi MSCI didasarkan pada masukan langsung dari pelaku pasar dan kerangka penilaian objektif. Ia menyoroti bahwa perbaikan tidak cukup dilakukan melalui perubahan teknis indeks atau penyesuaian komposisi, melainkan membutuhkan reformasi menyeluruh dalam tata kelola pasar. Upaya perbaikan harus mampu menunjukkan komitmen nyata terhadap efektivitas regulasi dan akuntabilitas pasar.
Menurut analis dari Carthage Capital, Stephen Wu, tantangan utama yang dihadapi pasar Indonesia meliputi dominasi kepemilikan oleh sejumlah entitas besar, struktur kepemilikan yang tidak terbuka, serta praktik perdagangan yang berpotensi memengaruhi harga saham secara tidak wajar. Ia menilai bahwa hal ini dapat melemahkan kepercayaan investor global terhadap stabilitas dan kredibilitas pasar.
MSCI menekankan bahwa keputusan akhir akan didasarkan pada progres yang nyata dalam penerapan kebijakan yang mendukung transparansi dan perlindungan investor. Indonesia diharapkan dapat membuktikan kapasitasnya dalam mengelola pasar secara efisien dan independen, terutama dalam tenggat waktu yang terbatas.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pezeshkian dan Putin Bahas Kerja Sama Ekonomi dan Geopolitik di Moskow
Presiden Iran Masoud Pezeshkian akan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pada akhir Oktober di Moskow untuk membahas kerja sama ekonomi, energi, dan isu global tanpa penandatanganan dokumen.
24 Oktober 2026

AsetKu Perkuat Literasi Keuangan Digital di Jakarta
AsetKu hadir dalam Jakarta Financial Festival 2026 untuk tingkatkan pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan digital secara bijak dan inklusif.
24 Oktober 2026

Produk UMKM Ramah Lingkungan Siap Eksplorasi Pasar Global
Menteri Perindustrian optimistis produk fesyen dan kerajinan berbahan alami dari UMKM Indonesia mampu menembus pasar internasional berkat meningkatnya kesadaran global terhadap lingkungan dan kesehatan.
24 Oktober 2026

OJK Dorong Aktivitas Rekening Rp50 Ribu Agar Tak Jadi Dormant
OJK memperkuat edukasi dan pendampingan keuangan untuk memastikan rekening program Rp50 ribu tetap aktif, khususnya di kalangan pelajar dan masyarakat kelas menengah ke bawah.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Operasi Narkoba Jayapura Gagalkan Peredaran Ganja dan Amankan Senjata Ilegal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Pengadilan Niaga Batalkan Sanksi KPPU ke 97 Pinjol
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dolar AS hingga Agustus
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Panas atau Dingin, Apakah Suhu Kopi Pengaruhi Kesehatan?
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.49 WITA

Empat Acara Besar Serentak Guncang GBK, Dinas Perhubungan Siapkan Langkah Antisipasi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.39 WITA

