Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Operasi Pesta Copet: Kisah Copet di Tengah Konser yang Menggugah

Film terbaru berjudul Operasi Pesta Copet tayang 27 Agustus 2026, mengangkat realitas ekonomi dan moral melalui kisah pencopet yang merancang aksi di festival musik besar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 11.25 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Operasi Pesta Copet: Kisah Copet di Tengah Konser yang Menggugah
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Film Operasi Pesta Copet yang dirilis pada 27 Agustus 2026 menjadi sorotan baru di layar lebar Tanah Air. Dibintangi Iqbaal Ramadhan sebagai tokoh utama, film ini menggabungkan elemen aksi, kriminal, dan komedi dalam narasi yang menggambarkan tekanan ekonomi dan dilema moral yang dihadapi individu dalam kondisi terpojok. Ijal, karakter utama yang diperankan Iqbaal, kehilangan pekerjaan di pabrik dan terpaksa mencari cara hidup dengan pekerjaan serabutan, termasuk berperan sebagai badut bersama temannya Adut.

Ketika kebutuhan hidup tak kunjung terpenuhi, Ijal menerima ajakan dari kenalan lamanya, Silet, untuk menjadi pencopet di pasar. Kejadian berubah saat ia dan sepupunya, Melodi, menghadiri konser musik. Dalam keramaian yang padat, Ijal menyadari potensi besar dari aksi pencopetan di tempat semacam itu. Ia pun memilih Pestapora—festival musik yang menarik belasan ribu penonton—as target utama operasi mereka.

Dengan bantuan Melodi dan Adut, Ijal merancang strategi secara matang. Mereka mempelajari pola gerak penonton, aktivitas seperti moshing, hingga ritme musik agar bisa menyatu dengan suasana tanpa dicurigai. Mereka juga melibatkan Tia, mantan kekasih Ijal, untuk memperkuat jaringan. Latihan dilakukan di konser kecil sebelum eksekusi di Pestapora, dengan tujuan meminimalkan kesalahan dan memaksimalkan keberhasilan.

Namun, keberhasilan tak lepas dari risiko tinggi yang tak terduga. Film ini tidak hanya menggambarkan aksi pencopetan, tetapi juga menyoroti realitas sosial yang mendorong seseorang melakukan hal terlarang demi bertahan hidup. Dengan label R13+, film ini diharapkan mampu memicu refleksi publik tentang ekonomi, kesenjangan, dan pilihan hidup yang terpaksa diambil di tengah tekanan sosial.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya