Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Operasi Pesta Copet: Musik dan Kehidupan di Balik Aksi Copet

Film yang menggabungkan dunia festival musik dan aksi pencopetan menonjolkan atmosfer autentik, meski performa utama kurang meyakinkan dalam membangun karakter ekonomi marginal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 09.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Operasi Pesta Copet: Musik dan Kehidupan di Balik Aksi Copet
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Operasi Pesta Copet hadir sebagai karya pertama sutradara drummer Seringai, Edy Khemod, yang menggambarkan kehidupan empat pemuda dalam konteks festival musik populer. Film ini menunjukkan ketelitian tinggi dalam membangun suasana Pestapora 2025, baik melalui detail kostum band seperti The Adams, Teenage Death Star, maupun Seringai, hingga pengambilan adegan langsung di lokasi konser. Musik yang dipilih sejak awal turut memperkuat identitas dunia yang digambarkan, menjadikan soundtrack bukan sekadar latar, melainkan bagian integral dari narasi.

Namun, meski berhasil menciptakan atmosfer yang hidup dan autentik, film ini gagal memadukan dua elemen utama—dunia musik dan genre heist—dengan seimbang. Aksi pencopetan yang menjadi inti dari judul terasa lebih sebagai elemen pendukung dibandingkan jualan utama, sehingga menimbulkan kesan tidak selaras antara konsep dan realisasi. Penonton yang mengharapkan ketegangan ala film pencurian berkelas justru mendapati momentumnya terlewat, karena fokus lebih banyak tertuju pada dinamika kebersamaan dan kehidupan sehari-hari para karakter.

Kinerja akting Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal, tokoh utama yang digambarkan sebagai pria dari latar belakang ekonomi terpuruk, dinilai kurang meyakinkan. Wajahnya yang masih terlihat mulus dan tidak menunjukkan tanda-tanda tekanan ekonomi membuat perannya sebagai pencopet yang terdesak kehidupan terasa kurang mendalam. Meski ada momen emosional yang cukup menyentuh, kesan kesulitan hidup yang seharusnya menjadi dasar aksi karakter belum sepenuhnya tersampaikan secara visual dan emosional.

Di sisi lain, sejumlah pemain lain berhasil menonjolkan keaslian dalam peran mereka. Fauzan Lubis sebagai Silet menampilkan kelicikan yang natural, tanpa terkesan berlebihan, membangun karakter abang tongkrongan kelas bawah yang hidup dari kecerdikan. Kristo Immanuel, Kawai Labiba, dan Zulfa Maharani juga mampu menghidupkan peran mereka sebagai teman-teman Ijal dengan keseimbangan antara humor, keterikatan emosional, dan kehidupan sehari-hari yang penuh tekanan. Kebersamaan mereka justru menjadi bagian paling menyentuh dari film ini.

Tujuan utama film—menyampaikan pesan bahwa di balik tindakan negatif sering kali tersembunyi kondisi sosial yang memaksa—masih bisa dirasakan, meski disampaikan dengan cara yang terlalu idealis. Dengan disclaimer awal yang menekankan sisi fiksi, film ini tetap berusaha menjaga keseimbangan antara kritik sosial dan hiburan. Namun, kegagalan dalam membangun suspense dan konsistensi karakter utama membuat film ini lebih dikenang sebagai dokumentasi kehidupan skena musik muda daripada karya heist yang mengejutkan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya