Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pabrikan Eropa Desak Kebijakan Fleksibel Hadapi Tekanan China

Pabrikan mobil Eropa meminta dukungan kebijakan lebih kuat untuk bertahan dari persaingan ketat dengan China dan transisi ke kendaraan listrik, dengan ancaman pemangkasan produksi jika tidak ada perubahan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 15.26 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 61x dibuka
Pabrikan Eropa Desak Kebijakan Fleksibel Hadapi Tekanan China📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pabrikan mobil Eropa secara kolektif menyerukan langkah konkret dari pemerintah untuk memperkuat daya saing industri domestik di tengah tekanan dari pasar China dan transformasi energi. Pernyataan ini disampaikan oleh CEO Volkswagen, Oliver Blume, saat berada di Paris Motor Show 2026, menekankan bahwa model bisnis industri mobil di benua tersebut kini berada dalam kondisi kritis. Ia menekankan perlunya regulasi yang lebih adaptif serta insentif finansial untuk mendorong produksi lokal yang berkelanjutan.

Tiga raksasa otomotif—Volkswagen, Stellantis, dan Renault—yang bersama-sama menghasilkan lebih dari 60 persen mobil Eropa, menghadapi tantangan ganda: memproduksi kendaraan listrik terjangkau tanpa mengorbankan profitabilitas, sekaligus bersaing dengan mobil China yang dijual murah. Ketergantungan mereka pada segmen pasar massal, yang memiliki volume tinggi namun margin sempit, membuat mereka rentan terhadap fluktuasi harga dan biaya produksi.

Uni Eropa baru-baru ini menyetujui kesepakatan yang dapat memotong ekspor mobil hybrid China ke benua tersebut hampir 50 persen, respons terhadap kekhawatiran atas banjir produk murah dari China yang mencari pasar alternatif akibat melambatnya permintaan domestik dan keterbatasan akses ke Amerika Serikat. Meski menyambut langkah tersebut, pabrikan Eropa menilai belum cukup. Mereka menekankan perlunya penanganan biaya energi yang tinggi dan percepatan pembangunan infrastruktur baterai di Eropa.

CEO Stellantis Antonio Filosa menyoroti kebutuhan mendesak akan lebih banyak pabrik baterai dalam negeri, sementara CEO Renault Francois Provost memperingatkan potensi pemangkasan produksi hingga 300 ribu unit di Eropa jika target emisi karbon tahun 2030 tidak disesuaikan secara realistis. Data kinerja kuartal III menunjukkan tren menurun, dengan BMW mencatat penurunan pengiriman global 6,4 persen dan penjualan di China turun hingga 25 persen. Stellantis juga melaporkan penurunan pengiriman 1 persen, meski penjualan di Eropa naik 10 persen berkat kendaraan dari mitra China, Leapmotor.

Di tengah kompleksitas ini, beberapa merek Eropa mencoba memanfaatkan kekuatan sejarah sebagai strategi kompetitif. Stellantis meluncurkan versi listrik Citroen 2CV, sementara Volkswagen memperkenalkan Polo listrik yang mengambil inspirasi dari legenda Golf era 1980-an. Di sisi lain, Blume tengah menyelesaikan restrukturisasi terbesar dalam sejarah Volkswagen, termasuk pemangkasan tenaga kerja dan kemungkinan penutupan pabrik, yang menemui resistensi dari serikat pekerja. Ia menegaskan bahwa masa depan industri Eropa harus dibangun di atas fondasi produksi lokal yang menguntungkan dan tahan uji, bukan hanya berbasis ekspor.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya