Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pangan Lokal Jadi Fondasi Ketahanan Nasional

Pemerintah mempercepat diversifikasi pangan berbasis kekayaan hayati lokal melalui Perpres 81/2024, dengan fokus pada pemanfaatan 2.564 spesies tumbuhan dan penguatan ekonomi daerah melalui inovasi produk olahan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 09.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Pangan Lokal Jadi Fondasi Ketahanan Nasional📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perpres Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal telah resmi berlaku sejak 15 Agustus 2024, menjadi landasan strategis dalam membangun sistem pangan nasional yang mandiri, sehat, dan berkelanjutan. Aturan ini menetapkan delapan pendekatan utama, termasuk penguatan regulasi, optimalisasi lahan pekarangan, pengembangan industri pangan lokal melalui UMKM, serta penguatan kelembagaan petani, pembudidaya ikan, dan nelayan. Fokus utama adalah mengurangi ketergantungan pada beras dan terigu dengan memanfaatkan potensi pangan lokal yang telah ada secara alami di berbagai wilayah.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi hingga 2.564 spesies tumbuhan di Indonesia yang memiliki potensi sebagai sumber pangan, di antaranya lebih dari 77 jenis yang menghasilkan karbohidrat. Kekayaan ini mencakup berbagai umbi, kacang, buah, sayuran, dan rempah tradisional yang telah beradaptasi secara alami dengan ekosistem lokal selama ribuan tahun. Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan keanekaragaman hayati pangan terbesar di dunia, setelah Brasil, berdasarkan data Global Biodiversity Index, namun potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal karena dominasi konsumsi beras dan terigu di masyarakat.

Implementasi kebijakan mulai terlihat di berbagai daerah, salah satunya melalui Gerakan Muna Makan Jagung di Sulawesi Tenggara, yang diapresiasi oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebagai contoh nyata penerapan Perpres 81/2024 di tingkat lokal. Program ini tidak hanya mendorong konsumsi pangan lokal, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi petani. Di Karawang dan Bandung, Jawa Barat, Bapanas mempercepat hilirisasi sorgum dengan memfasilitasi petani dan UMKM melalui peralatan pengolahan seperti perontok, penyosoh, penepung, dan pengering, sehingga produk olahan seperti bubur, kerupuk, tepung, dan cookies dapat dipasarkan secara luas dan bahkan masuk ke Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di Papua, UMKM Japamo telah mengolah sagu lokal menjadi produk modern seperti camilan kekinian yang tersebar hingga ke Merauke, Sorong, dan pasar digital, bahkan menarik minat buyer dari Jepang dan Korea dalam ajang FHA 2026 di Singapura. Sementara itu, riset bersama SEAMEO RECFON dan Kemendikdasmen menunjukkan pentingnya menyusun menu makan bergizi di sekolah berdasarkan pangan lokal, seperti gulai ikan di wilayah Sumatra. Pendekatan ini memastikan kebutuhan gizi anak didik terpenuhi tanpa mengabaikan kekayaan pangan daerah, sekaligus mendorong perputaran ekonomi lokal melalui pemanfaatan sumber daya alam yang ada.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya