Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pasar Baru, Jejak Perdagangan Abad ke-19 di Jakarta

Pasar Baru, kawasan perdagangan khas Jakarta yang berdiri sejak 1820, tetap menjadi pusat aktivitas ekonomi dan keberagaman budaya hingga kini.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 13 Oktober 2026, 17.42 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 25x dibuka
Pasar Baru, Jejak Perdagangan Abad ke-19 di Jakarta📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pasar Baru, salah satu ikon perdagangan Jakarta, telah menjadi bagian dari lanskap kota sejak awal abad ke-19. Berdiri di kawasan Weltevreden—wilayah yang dulu menjadi pusat kekuasaan kolonial—kawasan ini awalnya dibangun sebagai respons atas perluasan kota ke arah selatan, seiring kebijakan pengembangan yang digalakkan pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Nama awalnya, Passer Baroe, mencerminkan statusnya sebagai pasar baru di tengah perkembangan urbanisasi Batavia.

Sebelum Pasar Baru muncul, sejumlah pasar lain seperti Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang sudah beroperasi sejak abad ke-18. Namun, dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang semakin pesat di sisi selatan, muncul kebutuhan akan pusat perdagangan baru. Pasar Baru pun lahir sebagai solusi, melengkapi jaringan perdagangan yang telah mapan sebelumnya dan menjadi pusat distribusi barang-barang kebutuhan pokok, pakaian, elektronik, hingga perhiasan.

Kehidupan sosial dan budaya di Pasar Baru telah membentuk identitas khas kota. Kehadiran komunitas India menempatkan sebagian area sebagai "Little India", dengan aktivitas perdagangan yang dominan dari keturunan India, termasuk penjualan pernak-pernik dan barang kebutuhan harian. Di sana juga berdiri Gurdwara, tempat ibadah Sikh, sebagai bukti keberlangsungan tradisi keagamaan yang kaya. Sementara itu, komunitas Tionghoa telah beroperasi sejak 1877, dengan Klenteng Sin Tek Bio yang berdiri sejak 1698 di Gang Kelinci, menjadi saksi sejarah keberadaan etnis Tionghoa di wilayah tersebut.

Hingga hari ini, Pasar Baru tetap menjadi destinasi favorit bagi masyarakat yang mencari barang dengan harga terjangkau. Banyak pengunjung datang untuk berburu pakaian, sepatu, dan aksesori bekas—dengan harga mulai dari Rp10 ribu—yang menjadikannya salah satu pusat thrifting paling diminati di Jakarta. Meski mengalami perubahan, kawasan ini tetap mempertahankan warisan sejarah dan keragaman budaya yang menjadi ciri khas kota.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya