Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pawai Kemanusiaan untuk Korban Hilang di Meksiko

Aktivis dan keluarga korban penghilangan paksa menggelar aksi di Mexico City, menuntut keadilan dan transparansi atas lebih dari 130 ribu orang yang masih hilang sejak 2006.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 23.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pawai Kemanusiaan untuk Korban Hilang di Meksiko📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ratusan warga, termasuk keluarga korban dan aktivis hak asasi manusia, bergerak dalam pawai panjang di jalanan utama Mexico City pada Minggu (30/8/2026). Aksi tersebut digelar sebagai bagian dari peringatan Hari Internasional Korban Penghilangan Paksa, dengan fokus pada tekanan terhadap pemerintah untuk mengungkap keberadaan lebih dari 130.000 orang yang dilaporkan menghilang tanpa jejak. Spanduk, foto, dan poster yang dipajang di sepanjang rute menjadi simbol perjuangan yang tak kunjung reda.

Setiap gambar yang dipajang merupakan wajah nyata dari orang-orang yang tak kunjung ditemukan. Banyak dari mereka menjadi korban konflik kekerasan, penangkapan paksa, atau hilang tanpa jejak di tengah ketegangan antara pemerintah dan kelompok kejahatan terorganisasi. Salah satu peserta, Rosa Elena Tovar Rodriguez, mengungkapkan kekecewaannya terhadap respons pihak berwenang, khususnya terkait putranya yang menghilang di Michoacan pada 13 Maret 2026, tanpa informasi apapun hingga kini.

Korban hilang di Meksiko mencapai lebih dari 135.000, dengan lonjakan signifikan dimulai sejak 2006 ketika pemerintah melancarkan operasi militer terhadap kartel narkoba. Meski pemerintah menyatakan dukungan terhadap kelompok pencari, seperti para ibu pencari (madres buscadoras), praktik di lapangan menunjukkan hambatan besar. Keluarga korban melaporkan proses administratif yang lambat, minimnya bantuan dana, serta ancaman fisik yang kerap mengintai mereka yang berani mengungkap fakta.

Mereka menekankan bahwa pencarian tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab individu, melainkan tuntutan keadilan kolektif. Dengan menuntut transparansi dan akuntabilitas dari institusi negara, para aktivis berharap pemerintah tidak hanya menyatakan dukungan, tetapi benar-benar membuka ruang bagi investigasi independen dan proses hukum yang adil.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Direksi dan Komisaris MKNT Mundur Serentak
Nasional

Direksi dan Komisaris MKNT Mundur Serentak

Empat pejabat utama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, termasuk dua komisaris dan dua direksi, mengundurkan diri secara bersamaan, menyusul kondisi pasar saham perusahaan yang stagnan di level Rp1.

14 September 2026

Berita Lainnya