Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pemenang Kontes Transgender Thailand Pilih Kembali Jadi Pria

Seorang mantan finalis kontes kecantikan transgender Thailand kini kembali menjalani hidup sebagai pria, setelah menempuh perjalanan panjang dari kesulitan ekonomi hingga popularitas.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 09.06 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 87x dibuka
Pemenang Kontes Transgender Thailand Pilih Kembali Jadi Pria📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Trithipnipa Thippaphada, yang kini dikenal dengan nama panggung ARM, mengungkap keputusannya kembali menjadi pria setelah melewati masa transisi selama enam tahun. Ia lahir pada 1989 dan menghadapi tantangan keuangan sejak kecil, memilih bekerja di klub malam pada usia 16 tahun demi membayar utang keluarga. Dari penghasilan itu, ia menabung untuk operasi perubahan gender, yang akhirnya dilakukan saat berusia 24 tahun.

Pada 2013, Thippaphada memperoleh posisi runner-up dalam Miss Tiffany Universe Thailand, memulai karier publik di dunia hiburan. Popularitasnya mencapai puncak pada 2019 saat dinobatkan sebagai Miss Trans World Thailand, menjadikannya tokoh penting dalam komunitas transgender di negara tersebut. Namun, setahun setelah kemenangan itu, ia mengejutkan publik dengan pengumuman akan menjalani operasi kembali menjadi pria.

Alasan utama keputusannya adalah kenyamanan dalam identitas laki-laki. Ia menyatakan lebih nyaman mengenakan pakaian pria, memotong rambut pendek, dan menampilkan diri dengan penampilan maskulin. Keputusan ini bukan tiba-tiba, melainkan hasil refleksi mendalam setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai perempuan. Ia menekankan bahwa identitas gender bukan hal yang tetap, melainkan proses yang bisa berubah seiring waktu dan pengalaman hidup.

Kini, ARM tetap aktif di dunia hiburan sebagai model, pencipta konten, dan tokoh gender-fluid. Ia juga sempat menjadi sorotan media karena mengalami komplikasi serius akibat suntikan filler yang menyebabkan bengkak parah pada wajah, hingga mengganggu fungsi penglihatan. Meski begitu, ia tetap berkomitmen untuk terus mengekspresikan diri secara autentik di hadapan publik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya