Pengembang Properti Australia Tengah Krisis, Ratusan Proyek Terancam Gagal
Bathla Group, pengembang properti asal Sydney, kini menghadapi ancaman kebangkrutan setelah masuk proses administrasi sukarela, dengan ratusan proyek terancam terhenti dan ribuan pekerja dirumahkan.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 16 September 2026, 22.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Perusahaan pengembang properti Bathla Group yang berbasis di Western Sydney kini berada dalam fase kritis setelah memasuki proses administrasi sukarela, sebuah mekanisme hukum yang memungkinkan pihak independen mengambil alih manajemen perusahaan dalam upaya menyelamatkan keberlangsungan operasional. Proses ini dilakukan menyusul tekanan keuangan yang semakin memburuk, di mana perusahaan gagal memenuhi kewajiban pembayaran kepada para kreditur. Sejak penerapan administrasi, kondisi finansial Bathla terus merosot, memicu ketidakpastian besar terhadap kelanjutan proyek-proyek yang sedang berjalan.
Hanya lima dari sekitar 40 kreditur yang bersedia menyuntikkan dana segar senilai A$3 juta hingga A$5 juta (sekitar Rp37,8 miliar-Rp63,1 miliar) untuk menjaga aktivitas konstruksi berjalan selama dua pekan ke depan. Jumlah ini jauh di bawah kebutuhan awal sekitar A$20 juta (Rp252,1 miliar) yang dibutuhkan untuk menjaga operasional selama lima minggu. Akibatnya, lebih dari 60% dari sekitar 350 karyawan telah dirumahkan, sementara sebagian besar proyek dihentikan sementara, dengan nasib masing-masing ditentukan oleh kreditur yang bersangkutan.
Beberapa kreditur seperti 360 Capital Mortgage REIT, Ray White Capital, Leda, Balmain, dan Woodbridge Capital telah menunjuk receiver atau mengambil kendali atas aset tertentu. Strategi yang diambil bervariasi: sebagian memilih menjual aset, sementara yang lain berupaya menyelesaikan proyek yang hampir selesai agar transaksi dengan pembeli bisa dipenuhi. Dalam kasus satu proyek yang dijamin oleh 72 unit apartemen hampir selesai, kreditur memilih melanjutkan pembangunan untuk menyelesaikan kontrak dengan pembeli, sebelum menjual sisa unit.
Meski demikian, upaya penyelamatan masih terus dievaluasi. Teneo, administrator yang ditunjuk, sedang meninjau berbagai opsi, termasuk restrukturisasi atau pembiayaan kembali 25 lahan yang belum dikembangkan bernilai sekitar A$1 miliar. Proposal dari sindikasi investor yang didukung oleh investor Jepang sempat diluncurkan, namun ditarik karena tidak tercapainya kesepakatan mengenai struktur perusahaan dan kebutuhan penilaian ulang aset. Keberadaan pendiri Bathla, Bhart Bhushan, juga menjadi pertimbangan krusial dalam rencana tersebut.
Pemerintah Negara Bagian New South Wales menegaskan bahwa keputusan terkait masa depan Bathla merupakan tanggung jawab kreditur, bukan pemerintah. Mereka menekankan fokus pada perlindungan pembeli dan penyelesaian proyek yang masih layak dilanjutkan, tetapi menolak intervensi dengan dana publik. Dengan semakin banyak proyek yang diambil alih secara terpisah, kemungkinan Bathla kembali menjadi satu entitas yang utuh sangat kecil. Masa depan perusahaan kini bergantung pada keputusan kreditur dan efektivitas manajemen administrator dalam menjaga nilai aset.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Harga Tanah Naik, Ini Delapan Penyebab Utamanya
Kenaikan harga tanah di Indonesia dipengaruhi berbagai faktor seperti keterbatasan lahan, pertumbuhan penduduk, dan pembangunan infrastruktur, dengan data menunjukkan pertumbuhan harga properti residensial sebesar 0,83% pada akhir 2025.
16 September 2026

Prabowo Dorong Danantara Wujudkan Perluasan LRT Jakarta
Presiden Prabowo instruksikan Danantara terlibat dalam perluasan proyek LRT Jakarta, menyusul permintaan Gubernur Pramono Anung untuk perluasan jalur ke JIS dan KCIC.
16 September 2026

Lelang Surat Utang Capai Rp34 Triliun, Minat Investor Melonjak
Lelang surat utang negara pada 15 September 2026 menyerap dana segar Rp34 triliun dari total penawaran Rp60,96 triliun, menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap instrumen keuangan pemerintah.
16 September 2026

Proyek LRT City Belum Selesai, Adhi Karya Janji Tuntaskan Sesuai Jadwal
Adhi Karya menegaskan komitmen menyelesaikan proyek LRT City yang mengganggu 2.400 konsumen, dengan pengawasan penuh dari pemerintah dan pemegang saham.
16 September 2026
Berita Lainnya

Hindari Minuman Manis dan Kafein Saat Kemarau
Rabu, 16 September 2026, 22.44 WITA

Modifikasi Bumper Tajam pada LCGC Dilarang Polisi
Rabu, 16 September 2026, 22.43 WITA

Sindikat Palsukan SIM di Riau Raup Keuntungan Besar
Rabu, 16 September 2026, 22.43 WITA

Redmi Note 17 Pro Max Diluncurkan, Bawa Baterai 10.000mAh dan Performa Ekstrem
Rabu, 16 September 2026, 22.36 WITA

AS dan Jerman Tekankan Reformasi Korupsi Irak
Rabu, 16 September 2026, 22.35 WITA

Menteri Keuangan Pertimbangkan Ulang Mutasi Pejabat Era Purbaya
Rabu, 16 September 2026, 22.35 WITA

Demonstrasi Besar di Kongo Tuntut Penolakan Perpanjangan Jabatan Presiden
Rabu, 16 September 2026, 22.35 WITA

Pemerintah Kaji Aturan Baru Distribusi LPG 3 Kg Berbasis Kesejahteraan
Rabu, 16 September 2026, 22.35 WITA


