IPO di Pasar Modal Lesu, OJK Soroti Kualitas Informasi
Penurunan jumlah calon emiten IPO dipengaruhi ketidakpastian global, sementara OJK fokus pada kualitas dan kesiapan perusahaan sebelum melantai di bursa.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 16 September 2026, 19.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Peningkatan ketidakpastian geopolitik global menjadi salah satu faktor utama menurunnya jumlah perusahaan yang berencana melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dinamika pasar global yang tidak menentu turut memengaruhi keputusan perusahaan dalam menentukan waktu pelaksanaan IPO. Kondisi ini membuat sejumlah perusahaan menunda atau meninjau ulang rencana go public mereka.
Hingga 6 September 2026, tercatat sebanyak tujuh perusahaan masih berada dalam tahap pipeline pendaftaran IPO. Nilai dana yang diproyeksikan dapat dihimpun dari proses ini mencapai maksimal Rp4,02 triliun. Namun, sejumlah rencana masih belum mendapatkan persetujuan karena belum memenuhi standar kualitas keterbukaan informasi yang diperlukan. OJK menegaskan bahwa proses evaluasi tidak hanya berfokus pada jumlah IPO, tetapi juga pada kualitas dan kesiapan perusahaan yang akan masuk ke pasar modal.
Target penghimpunan dana melalui pasar modal pada tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp250 triliun. Hingga pertengahan September, realisasi dana yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp148,3 triliun. Untuk mendukung pencapaian target tersebut, OJK menekankan pentingnya kualitas informasi yang transparan dan akuntabel dari calon emiten. Proses pemeriksaan dan pendampingan dilakukan secara ketat guna menjaga integritas pasar.
Dalam upaya meningkatkan kesiapan perusahaan, OJK bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) menyelenggarakan berbagai kegiatan sosialisasi, termasuk pelatihan khusus atau coaching clinic di berbagai wilayah di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan membekali calon emiten dengan pemahaman menyeluruh mengenai persyaratan dan tata kelola yang dibutuhkan sebelum melantai di pasar modal.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Kenaikan Harga Minyak Akibat Gangguan Ekspor Saudi dan Libya
Harga minyak dunia melonjak pada Selasa (15/9/2026) akibat gangguan ekspor dari Arab Saudi dan Libya, ditambah serangan terhadap infrastruktur energi, memicu kekhawatiran pasokan global.
16 September 2026

Usulan Batalkan Rotasi Pegawai Dikabulkan Setelah Kritik Internal
Dirjen Pajak meminta pembatalan mutasi besar-besaran yang dilakukan era Purbaya karena nama-nama tak melalui proses assessment secara transparan.
16 September 2026

Asing Lanjutkan Aksi Jual, Mandiri Pimpin Penurunan IHSG
Investor asing terus menjual saham di BEI, dengan Bank Mandiri jadi yang paling banyak dilepas, turunkan IHSG ke level 6.461,15 dalam lima hari berturut-turut di zona merah.
16 September 2026

Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Melemah di Rp17.675
Rupiah menunjukkan penguatan tipis ke level Rp17.675 per dolar AS, mengakhiri empat hari pelemahan beruntun, sementara dolar AS melemah seiring antisipasi keputusan suku bunga The Fed.
16 September 2026
Berita Lainnya

Oppo Siap Luncurkan Find X10 Series dengan Teknologi Kamera dan Baterai Terbaru
Rabu, 16 September 2026, 19.39 WITA

Uni Eropa Usulkan Larangan Akses Digital untuk Anak di Bawah 15 Tahun
Rabu, 16 September 2026, 19.37 WITA

Pemerintah Siapkan Aturan Baru Kendalikan Penggunaan BBM Subsidi
Rabu, 16 September 2026, 19.37 WITA

Prabowo Tegaskan Danantara Dukung Perluasan LRT Jakarta
Rabu, 16 September 2026, 19.37 WITA

Indonesia Perkuat Daya Saing untuk Tarik Investasi Teknologi
Rabu, 16 September 2026, 19.37 WITA

Pemerintah Bantah Potong RKAB Vale, Sebut Permintaan Tambahan dari Perusahaan
Rabu, 16 September 2026, 19.37 WITA

Toyota Siapkan BEV Entry-Level, Studi Masih Berjalan
Rabu, 16 September 2026, 19.36 WITA

Toyota Konfirmasi bZ4X Lokal Capai TKDN 40%
Rabu, 16 September 2026, 19.36 WITA


