Rabu, 16 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Melemah di Rp17.675

Rupiah menunjukkan penguatan tipis ke level Rp17.675 per dolar AS, mengakhiri empat hari pelemahan beruntun, sementara dolar AS melemah seiring antisipasi keputusan suku bunga The Fed.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 16 September 2026, 19.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Melemah di Rp17.675📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah berhasil memperbaiki posisi pada penutupan perdagangan hari ini, menguat 0,03% ke level Rp17.675 per dolar AS. Penguatan ini menjadi penutup dari empat hari beruntun pelemahan yang sempat membuat mata uang Garuda menyentuh titik terlemah di Rp17.740. Pada awal perdagangan, rupiah sempat melemah hingga ke Rp17.700, namun tekanan mulai mereda menjelang akhir sesi, memungkinkan perbaikan hingga 65 poin dari posisi terendah harian.

Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,05% ke posisi 99,564 pada pukul 15.00 WIB. Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya sempat menguat 0,12% di awal hari, menunjukkan koreksi pasar setelah kenaikan sebelumnya. Penurunan DXY memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali menguat meski secara terbatas, karena sentimen pasar tetap waspada menyusul pertemuan The Federal Reserve (The Fed) yang berlangsung hingga Kamis dini hari.

Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, dengan probabilitas mencapai sekitar 90%. Menurut analis dari Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, kenaikan tersebut telah hampir sepenuhnya diprediksi, sehingga dampaknya terhadap dolar diperkirakan moderat. Namun, fokus pasar tidak hanya pada angka kenaikan, melainkan pada sinyal kebijakan ke depan yang akan disampaikan oleh Ketua The Fed, Kevin Warsh.

Jika Warsh menekankan kemungkinan pengetatan moneter lebih lanjut, dolar berpotensi kembali menguat dan menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah. Sebaliknya, jika suku bunga naik tetapi disertai pernyataan yang menenangkan tentang arah kebijakan mendatang, dolar bisa melemah lebih dalam, membuka peluang bagi rupiah untuk memperkuat posisi lebih lanjut. Kemungkinan kecil The Fed mempertahankan suku bunga juga tetap menjadi faktor risiko, yang bisa memicu koreksi tajam pada dolar dan memperkuat rupiah secara tak terduga.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya