Rabu, 16 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kenaikan Harga Minyak Akibat Gangguan Ekspor Saudi dan Libya

Harga minyak dunia melonjak pada Selasa (15/9/2026) akibat gangguan ekspor dari Arab Saudi dan Libya, ditambah serangan terhadap infrastruktur energi, memicu kekhawatiran pasokan global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 16 September 2026, 19.36 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Kenaikan Harga Minyak Akibat Gangguan Ekspor Saudi dan Libya📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Harga minyak dunia mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan Selasa (15/9/2026), menyusul gangguan beruntun terhadap ekspor minyak dari Arab Saudi dan penutupan fasilitas produksi di Libya. Minyak Brent melonjak US$3,07 atau 2,9% menjadi US$108,75 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik lebih tinggi, mencapai US$105,83 per barel dengan kenaikan 4,38%. Kedua komoditas ini mencatat penutupan tertinggi sejak 19 Mei 2026, menandai kecenderungan pasar yang semakin sensitif terhadap risiko pasokan.

Gangguan utama berasal dari Arab Saudi, di mana operasi pemuatan minyak di terminal Yanbu dihentikan sementara. Selain itu, sejumlah pengiriman minyak mentah ke Eropa yang seharusnya dikirim pada akhir September dibatalkan. Kondisi ini menguatkan kekhawatiran pasar, terutama karena Yanbu merupakan salah satu jalur utama ekspor Saudi, terutama menyusul ketegangan di Selat Hormuz yang mengganggu rute pelayaran klasik.

Infrastruktur East-West Pipeline, yang menghubungkan ladang minyak timur ke pelabuhan Laut Merah, kini menjadi sorotan setelah mengalami serangan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran. Pipa sepanjang 1.200 kilometer ini menjadi alternatif vital bagi Saudi ketika jalur Selat Hormuz terganggu. Namun, kerusakan atau gangguan pada pipa ini berpotensi memperlambat pemulihan ekspor, memperpanjang ketidakpastian pasokan.

Kepedulian pasar juga meluas ke Libya, di mana National Oil Corporation (NOC) mengumumkan penghentian operasi di tiga ladang akibat penutupan katup oleh anggota Petroleum Facilities Guard pada pipa ekspor Hamada-Zawiya. NOC mengancam akan menerapkan force majeure jika kondisi tidak segera pulih, yang dapat berdampak pada produksi minyak lainnya. Perkiraan waktu perbaikan East-West Pipeline bervariasi antara beberapa hari hingga delapan minggu, menurut Goldman Sachs, sementara Menteri Energi AS menyebutkan pemulihan dalam hitungan hari, menciptakan ketegangan antara ekspektasi pasar.

Kondisi ini diperparah oleh serangan saling menghancurkan antara Rusia dan Ukraina terhadap fasilitas energi, yang menambah tekanan terhadap pasokan global. Analis menyebut bahwa serangan terbaru oleh Houthi terhadap Arab Saudi berpotensi mengubah ekspektasi investor mengenai durasi dan intensitas konflik di kawasan Timur Tengah. Dengan berbagai faktor yang saling terkait, pasar minyak kini berada dalam posisi rentan terhadap volatilitas lebih lanjut, terutama jika gangguan berlanjut tanpa penyelesaian cepat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya