Utang Luar Negeri RI Turun dalam Dolar AS, Pergeseran Mata Uang Dominan
Utang luar negeri Indonesia pada Juli 2026 mencapai US$ 454,8 miliar, dengan penurunan signifikan dalam dolar AS meski secara tahunan tumbuh 4,9%.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 16 September 2026, 15.34 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pada bulan Juli 2026, nilai utang luar negeri (ULN) Republik Indonesia tercatat sebesar US$ 454,8 miliar, sedikit meningkat dibandingkan posisi Juni yang berada di US$ 454,5 miliar. Meskipun terjadi kenaikan secara bulanan, pertumbuhan tahunan ULN mencapai 4,9%, sesuai laporan resmi dari Bank Indonesia. Angka ini menunjukkan dinamika konsistensi dalam struktur utang meski mengalami pergeseran dominasi mata uang.
Yang mencatatkan penurunan mencolok adalah posisi utang dalam dolar Amerika Serikat, yang turun dari US$ 271,95 miliar menjadi US$ 270,65 miliar. Di sisi lain, nilai utang dalam rupiah juga merosot, berada pada level US$ 92,61 miliar dari sebelumnya US$ 93,59 miliar. Sementara itu, utang dalam Franc Swiss mengalami penurunan dari US$ 151 juta menjadi US$ 138 juta.
Namun, sejumlah mata uang lain justru mengalami kenaikan signifikan. Utang dalam yen Jepang naik menjadi US$ 17,95 miliar dari US$ 17,77 miliar. Dolar Singapura meningkat ke US$ 8,88 miliar, dari sebelumnya US$ 8,58 miliar. Euro juga mengalami kenaikan, mencapai US$ 42,21 miliar dari US$ 41,3 miliar. Yuan China naik ke US$ 19,35 miliar, meningkat dari US$ 17,98 miliar, sementara utang dalam dolar Australia mencapai US$ 1,55 miliar, naik dari US$ 1,51 miliar.
Perubahan ini menunjukkan adanya diversifikasi struktur utang, dengan pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS dan peningkatan posisi mata uang lain yang dianggap lebih stabil atau menguntungkan dalam transaksi internasional. Pergerakan ini menjadi indikator penting dalam kebijakan manajemen risiko devisa dan keseimbangan eksternal Indonesia.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Kenaikan Harga Minyak Akibat Gangguan Ekspor Saudi dan Libya
Harga minyak dunia melonjak pada Selasa (15/9/2026) akibat gangguan ekspor dari Arab Saudi dan Libya, ditambah serangan terhadap infrastruktur energi, memicu kekhawatiran pasokan global.
16 September 2026

Usulan Batalkan Rotasi Pegawai Dikabulkan Setelah Kritik Internal
Dirjen Pajak meminta pembatalan mutasi besar-besaran yang dilakukan era Purbaya karena nama-nama tak melalui proses assessment secara transparan.
16 September 2026

Asing Lanjutkan Aksi Jual, Mandiri Pimpin Penurunan IHSG
Investor asing terus menjual saham di BEI, dengan Bank Mandiri jadi yang paling banyak dilepas, turunkan IHSG ke level 6.461,15 dalam lima hari berturut-turut di zona merah.
16 September 2026

Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Melemah di Rp17.675
Rupiah menunjukkan penguatan tipis ke level Rp17.675 per dolar AS, mengakhiri empat hari pelemahan beruntun, sementara dolar AS melemah seiring antisipasi keputusan suku bunga The Fed.
16 September 2026
Berita Lainnya

Oppo Siap Luncurkan Find X10 Series dengan Teknologi Kamera dan Baterai Terbaru
Rabu, 16 September 2026, 19.39 WITA

Uni Eropa Usulkan Larangan Akses Digital untuk Anak di Bawah 15 Tahun
Rabu, 16 September 2026, 19.37 WITA

Pemerintah Siapkan Aturan Baru Kendalikan Penggunaan BBM Subsidi
Rabu, 16 September 2026, 19.37 WITA

Prabowo Tegaskan Danantara Dukung Perluasan LRT Jakarta
Rabu, 16 September 2026, 19.37 WITA

Indonesia Perkuat Daya Saing untuk Tarik Investasi Teknologi
Rabu, 16 September 2026, 19.37 WITA

Pemerintah Bantah Potong RKAB Vale, Sebut Permintaan Tambahan dari Perusahaan
Rabu, 16 September 2026, 19.37 WITA

Toyota Siapkan BEV Entry-Level, Studi Masih Berjalan
Rabu, 16 September 2026, 19.36 WITA

Toyota Konfirmasi bZ4X Lokal Capai TKDN 40%
Rabu, 16 September 2026, 19.36 WITA


