Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Penjualan Mobil Listrik Bekas China Melonjak di Eropa

Impor mobil listrik bekas asal China ke Uni Eropa melonjak 280% pada periode Januari–September 2026, sementara mobil baru dari China menurun 44% akibat kebijakan tarif dan kuota.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 23.06 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 22x dibuka
Penjualan Mobil Listrik Bekas China Melonjak di Eropa📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pertumbuhan pesat penjualan mobil listrik bekas asal Tiongkok di pasar Eropa mencatat rekor signifikan pada semester pertama 2026, dengan volume mencapai 7.900 unit—naik tajam 280% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Data ini dirilis oleh platform perdagangan kendaraan listrik China EV Marketplace (CEVM), yang mencatat penurunan drastis permintaan terhadap mobil listrik baru dari produsen Tiongkok di Eropa, sebesar 44% dalam periode yang sama. Penurunan ini disebabkan oleh kebijakan tarif dan kuota yang diterapkan Uni Eropa terhadap produk asal Tiongkok.

Kebijakan tersebut mencakup bea imbalan yang berlaku sejak 30 Oktober 2024, dengan tingkat berbeda tergantung produsen, mulai dari 7,8% untuk Tesla Shanghai hingga 35,3% untuk SAIC. Dengan bea masuk dasar 10%, tarif tertinggi mencapai 45,3% ketika digabungkan. Beberapa merek seperti BYD, Geely, dan SAIC terkena bea tinggi, membuat mobil baru dari Tiongkok kurang kompetitif di pasar Eropa. Di sisi lain, mobil bekas tidak terkena tarif tambahan maupun kuota hybrid, sehingga menjadi pilihan strategis bagi konsumen Eropa.

CEVM menawarkan lebih dari 2.600 unit mobil listrik bekas dari berbagai merek Tiongkok, termasuk Xiaomi, BYD, iCar, Denza, Lynk&Co, dan Avatr. Tim di Shanghai rutin menemukan kendaraan dengan jarak tempuh sekitar 6.000 km yang dijual dengan harga 40% lebih rendah dari harga resmi di pasar Tiongkok. Hal ini menarik minat konsumen yang mencari alternatif mobilitas ramah lingkungan dengan biaya lebih terjangkau.

Komisi Eropa juga telah menyetujui batasan impor mobil hybrid Tiongkok sebanyak 350.000 unit per tahun, dengan kenaikan 6% setiap tahun selama empat tahun. Kuota ini mencakup hybrid biasa maupun plug-in hybrid (PHEV), tetapi tidak berlaku untuk kendaraan yang dirakit di Eropa atau merek Eropa yang diproduksi di Tiongkok. Dengan perkiraan impor hybrid Tiongkok mencapai 800.000 unit pada tahun ini, kesepakatan ini diharapkan dapat menurunkan ekspor hingga lebih dari separuh. Sementara itu, data dari China Automobile Dealers Association (CADA) menunjukkan retensi nilai kendaraan listrik Tiongkok masih cukup tinggi, dengan Tesla Model 3 unggul pada usia tiga tahun dengan retensi nilai 61,4%.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya