Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Putih: Melodi yang Menggambarkan Kehidupan di Antara Kematian dan Kelahiran

Lagu "Putih" Efek Rumah Kaca menggambarkan perjalanan manusia dari akhir kehidupan menuju awal kehidupan melalui narasi personal dan simbolisme warna putih.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 15.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Putih: Melodi yang Menggambarkan Kehidupan di Antara Kematian dan Kelahiran📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Lagu "Putih" yang dirilis dalam album Sinestesia pada 2015 bukan sekadar karya musik, melainkan sebuah refleksi filosofis yang mendalam tentang siklus kehidupan. Dengan durasi hampir sepuluh menit, lagu ini menghadirkan dua konsep utama: "Tiada" yang menggambarkan kematian, dan "Ada" yang melambangkan kelahiran. Kedua elemen ini tidak diposisikan sebagai lawan, melainkan sebagai dua sisi dari satu proses yang tak terpisahkan. Melalui narasi orang pertama, pendengar diajak menyaksikan momen-momen terakhir seseorang yang menghadapi ajal, mulai dari suara ambulans, tahlilan, hingga keheningan rumah yang ditinggalkan.

Kematian dalam "Putih" tidak digambarkan secara dramatis atau heroik. Justru, kehadirannya terasa sangat dekat dan manusiawi—dalam tangisan keluarga, doa yang dipanjatkan, dan ketegangan yang menggantung di udara. Lagu ini sengaja menghindari narasi idealis, justru menekankan realitas: kematian bisa datang tanpa peringatan, di tengah aktivitas biasa, bahkan saat manusia belum siap. Dengan begitu, kematian tidak lagi menjadi hal yang jauh, melainkan bagian dari kehidupan yang tak terhindarkan.

Puncak pengalaman mendengarkan "Putih" terjadi saat lagu bertransisi dari "Tiada" ke "Ada". Perubahan ini bukan akhir, melainkan awal dari suatu perpindahan. Kematian tidak dilihat sebagai akhir total, melainkan sebagai transisi menuju sesuatu yang baru. Simbol warna putih menjadi pusat refleksi: bersih, kosong, suci, dan sekaligus ruang awal bagi sesuatu yang belum terbentuk. Tidak ada jawaban pasti dari lagu ini, namun dengan memadukan dua konsep yang bertolak belakang, "Putih" menciptakan ruang pemahaman di antara keduanya.

Pengalaman pribadi para personel band turut menyuburkan kedalaman lagu ini. "Tiada" terinspirasi dari kepergian Adi Amir Zainun, sementara "Ada" lahir dari kebahagiaan atas kelahiran anak-anak mereka. Kombinasi antara duka dan sukacita menciptakan karya yang tidak hanya abstrak, tetapi juga sangat nyata dalam pengalaman emosional. Tangisan yang mengiringi kematian dan kelahiran pun ditempatkan secara simbolis—dua momen yang berbeda secara emosional, namun memiliki suara yang sama. Dari sini, terbentuk pandangan bahwa hidup dan mati bukan dua hal yang terpisah, melainkan bagian dari satu perjalanan.

Durasi panjang dan musik yang tidak terburu-buru menjadi bagian penting dari pengalaman mendengar. Lagu ini lebih mirip perjalanan audio daripada karya pop biasa, memungkinkan ruang untuk merenung, menyerap, dan berpindah dari satu makna ke makna lain. Setiap bagian terasa seperti membuka halaman baru dalam sebuah kisah yang tak pernah selesai. Dalam akhirnya, "Putih" bukan hanya lagu tentang kematian, melainkan sebuah pengingat bahwa kehidupan hanya berarti karena ia bersifat terbatas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya