Minggu, 20 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ratusan Ribu Siswa Gaza Hadapi Tahun Ajaran Baru di Tengah Runtuhnya Infrastruktur Pendidikan

Lebih dari 540 ribu siswa di Gaza kembali ke sekolah pada awal tahun ajaran baru, meski sebagian besar bangunan pendidikan rusak akibat konflik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 20 September 2026, 23.13 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Ratusan Ribu Siswa Gaza Hadapi Tahun Ajaran Baru di Tengah Runtuhnya Infrastruktur Pendidikan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ratusan ribu siswa di Jalur Gaza kembali memasuki kelas pada Sabtu (19/9), memulai tahun ajaran baru di tengah kondisi infrastruktur pendidikan yang hancur akibat dampak konflik berkepanjangan. Meskipun banyak sekolah mengalami kerusakan parah, para murid tetap hadir dengan harapan dapat melanjutkan proses belajar meski di lingkungan yang tidak layak. Kegiatan akademik dimulai di lokasi sementara, termasuk ruang terbuka dan bangunan yang masih dapat difungsikan, meski dengan keterbatasan fasilitas.

Sekitar 541.000 siswa telah kembali ke sekolah, menunjukkan komitmen kuat terhadap pendidikan meski dalam kondisi krisis. Namun, realitas yang dihadapi sangat berat: lebih dari 85 persen sekolah pemerintah tidak lagi dapat digunakan secara normal. Sejumlah besar bangunan sekolah hancur total, sementara sisanya berada di zona yang dinyatakan berbahaya—disebut zona "garis kuning"—sehingga tidak aman untuk digunakan sebagai tempat belajar.

Dampak konflik terhadap sektor pendidikan sangat menakutkan. Data menunjukkan bahwa lebih dari 22 ribu siswa dan lebih dari 770 tenaga pendidik, termasuk 532 guru, gugur dalam berbagai serangan. Kehilangan nyawa ini tidak hanya mengguncang komunitas pendidikan, tetapi juga mengganggu kontinuitas proses belajar mengajar yang telah terganggu selama berbulan-bulan. Kondisi ini menunjukkan betapa rapuhnya sistem pendidikan Gaza di tengah tekanan militer yang berkepanjangan.

Di tengah keterbatasan, para guru dan siswa tetap berupaya menjaga semangat belajar. Mereka memanfaatkan ruang terbuka, tenda darurat, dan bangunan yang masih bisa dimanfaatkan untuk kegiatan akademik. Keterbatasan sarana dan prasarana menjadi tantangan utama, namun keinginan untuk terus belajar tetap utuh. Tujuan utama tetap sama: memberikan akses pendidikan yang layak kepada generasi muda Gaza meski dalam situasi yang sangat sulit.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya