Selasa, 22 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah Akibat Tekanan Geopolitik dan Harga Minyak

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS dipicu kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah yang mempertahankan harga minyak di atas US$100 per barel, memperkuat tekanan inflasi global dan fiskal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 17.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Rupiah Melemah Akibat Tekanan Geopolitik dan Harga Minyak📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengalami penurunan signifikan pada Senin (21/9), mencapai level Rp17.847 per dolar AS, melemah 0,50 persen atau 89 poin dari posisi sebelumnya. Penurunan ini didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang tetap berada di atas US$100 per barel, akibat ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah. Kondisi tersebut memperbesar risiko inflasi global dan menambah tekanan terhadap outlook fiskal negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh faktor eksternal tersebut. Selain itu, permintaan valas dari importir dan arus keluar modal dari portofolio aset domestik turut memperkuat tekanan terhadap nilai tukar. Ia menekankan bahwa pergerakan rupiah tetap dalam koridor fundamental ekonomi nasional.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI memperkuat strategi operasi moneter dengan pendekatan pro-market, termasuk pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang. Langkah-langkah stabilisasi dilakukan melalui transaksi swap lindung nilai dengan insentif, serta intervensi berkelanjutan di pasar offshore lewat Non-Deliverable Forward (NDF), pasar domestik melalui transaksi spot dan DNDF, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Koordinasi intensif terus dilakukan dengan korporasi dan pelaku pasar guna mendorong masuknya modal asing dan diversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Secara keseluruhan, pergerakan rupiah tetap sejalan dengan tren mata uang kawasan, dengan penguatan kumulatif sebesar 0,37 persen sejak awal kuartal. Cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 juga mencatatkan peningkatan ke level US$146,5 miliar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya