Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.885/AS$ di Akhir Perdagangan

Rupiah mengalami penurunan 0,51% pada penutupan perdagangan Kamis (24/9/2026), mencapai level Rp17.885 per dolar AS, dipengaruhi ekspektasi kebijakan moneter AS dan tekanan pasar global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 15.42 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 6x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.885/AS$ di Akhir Perdagangan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah berakhir melemah pada level Rp17.885 per dolar AS, menunjukkan penurunan sebesar 0,51% dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.795. Pergerakan ini terjadi setelah mata uang Garuda sempat menyentuh level terendah harian di Rp17.900 sebelum memperbaiki posisi menjelang penutupan perdagangan. Tekanan awal muncul sejak pembukaan pasar, ketika rupiah melemah 0,22% pada posisi Rp17.835, lalu menguat seiring dinamika pasar global dan domestik.

Pelemahan rupiah didorong oleh kembali meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat, menyusul kekhawatiran terhadap inflasi global dan kondisi fiskal AS yang menimbulkan ketidakpastian. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level 5,11%, tingkat tertinggi sejak 2007, yang meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang. Indeks dolar AS (DXY) meski melemah tipis 0,03% ke posisi 101,061, tetap berada di atas level 101.

Faktor global lain yang turut berkontribusi adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak dunia. Kenaikan harga minyak Brent ke atas US$100 per barel memperkuat tekanan terhadap mata uang negara pengimpor minyak. Di dalam negeri, permintaan valuta asing meningkat menjelang akhir kuartal III, terutama dari sektor importir yang membutuhkan dolar AS untuk pembayaran impor.

Bank Indonesia menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental ekonomi. Otoritas moneter berada di pasar secara aktif untuk mengelola fluktuasi, sambil memperkuat strategi operasi moneter berbasis mekanisme pasar. Koordinasi intensif dilakukan dengan pelaku pasar dan korporasi untuk menopang arus masuk modal asing dan menyeimbangkan kebutuhan valuta asing dalam sistem keuangan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya