Rabu, 30 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.894 per Dolar AS pada Penutupan Rabu

Rupiah berakhir melemah 0,48 persen menjadi Rp17.894 per dolar AS, didorong intervensi Bank Indonesia dan pelemahan dolar global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 30 September 2026, 17.41 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.894 per Dolar AS pada Penutupan Rabu📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (30/9) berada di level Rp17.894 per dolar AS, mengalami penurunan sebesar 87 poin atau 0,48 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang secara umum menguat terhadap dolar AS, dengan sejumlah mata uang utama seperti yuan China, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura menunjukkan kenaikan. Sementara itu, yen Jepang dan dolar Hong Kong juga menguat, meski dalam angka yang lebih kecil.

Di sisi lain, beberapa mata uang regional mengalami penurunan, termasuk peso Filipina yang melemah 0,12 persen dan won Korea Selatan yang terdepresiasi 0,07 persen. Pada pasar global, mata uang utama negara maju menunjukkan pergerakan bervariasi. Euro Eropa dan poundsterling Inggris menguat masing-masing 0,06 persen dan 0,25 persen, sedangkan dolar Kanada serta franc Swiss juga melanjutkan kenaikan. Namun, dolar Australia justru melemah 0,17 persen.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut penguatan rupiah pada sesi perdagangan sore ini didukung oleh intervensi Bank Indonesia. Ia menekankan bahwa langkah tersebut dilakukan dengan memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS yang dipicu oleh data pekerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan. Selain itu, penurunan harga minyak mentah dunia juga turut berkontribusi terhadap kenaikan daya beli rupiah.

Menurut Lukman, indeks dolar AS mengalami koreksi setelah munculnya sinyal dovish dari Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, yang menunjukkan kecenderungan kebijakan moneter yang lebih longgar. Hal ini memperkuat sentimen negatif terhadap dolar AS dan mendukung penguatan mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya