Senin, 5 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah, Tekanan Inflasi Meningkat di Sektor Barang

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS pada September 2026 berdampak langsung pada kenaikan harga barang, terutama melalui kenaikan biaya produksi dan inflasi grosir yang mencapai 6,76% secara tahunan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 5 Oktober 2026, 15.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah, Tekanan Inflasi Meningkat di Sektor Barang📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah yang terus mengalami depresiasi terhadap dolar AS pada awal Oktober 2026 mulai menimbulkan efek domino pada struktur harga barang di dalam negeri. Berdasarkan data terkini, inflasi tahunan pada September mencapai 3,28%, dengan kontribusi signifikan dari fluktuasi kurs yang memperkuat tekanan biaya input di kalangan produsen. Kenaikan ini tidak hanya terjadi pada komoditas impor langsung, tetapi juga merambat ke rantai pasokan industri melalui bahan baku yang dipasok dari luar negeri.

Laporan bulanan dari tim ekonom BCA menyoroti tren kenaikan inflasi harga grosir yang mencapai 6,76% pada September, naik dari 6,18% pada Agustus. Hal ini menunjukkan tekanan biaya yang terus berlanjut di sektor produksi, dengan risiko besar bahwa beban tersebut akan diteruskan ke harga akhir yang dibayar konsumen dalam beberapa bulan mendatang. Dalam analisisnya, Samuel Theophilus Artha dan Victor George Petrus Matindas menekankan bahwa fluktuasi kurs yang cepat sepanjang tahun ini menjadi pemicu utama kenaikan biaya produksi, terutama bagi perusahaan yang bergantung pada impor bahan baku.

Pandangan serupa disampaikan oleh tim riset ekonomi Permata Bank. Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Faisal Rachman menegaskan bahwa pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan inflasi dari sisi penawaran, bukan hanya dari sisi permintaan. Ia menilai bahwa peningkatan biaya impor akan berdampak pada margin produksi, yang kemudian akan berujung pada kenaikan harga jual produk akhir. Risiko ini semakin menguat mengingat harga komoditas global—termasuk di AS dan Tiongkok—telah mengalami kenaikan yang tidak terkait secara langsung dengan harga minyak.

Pada Senin, 5 Oktober 2026, rupiah membuka perdagangan dengan melemah signifikan ke level Rp17.950 per dolar AS, turun 0,46% atau 82 poin dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di Rp17.868. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, mencatatkan kenaikan ringan menjadi 102,030 pada pukul 09.00 WIB. Angka ini menunjukkan tekanan terus-menerus terhadap rupiah, yang berpotensi memperparah tekanan inflasi jika tidak ada kebijakan stabilisasi yang tepat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya