Tahanan Politik di Pulau Buru: Kerja Paksa dalam Bayang-Bayang Kekerasan
Puluhan ribu tahanan politik, termasuk Sukiman, dipaksa bekerja paksa di Pulau Buru sebagai bagian dari sistem pengendalian militer Orde Baru, di mana kekerasan dan pengawasan ketat menjadi alat kontrol.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 15.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 33x dibuka
📷 BBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pada akhir 1960-an, Sukiman, seorang warga Yogyakarta yang tak pernah terlibat dalam aktivitas politik, dipanggil ke kantor kelurahan untuk mengikuti apel. Ia tak menyangka, ajakan itu berubah menjadi penangkapan. Setelah ditempatkan di sejumlah penjara, termasuk Ambarawa, ia akhirnya dipindahkan ke Pulau Buru—lokasi terpencil yang berjarak lebih dari seribu kilometer dari Jawa. Di sana, ia tak diberi kesempatan membela diri, hanya diperintahkan bekerja tanpa hak atas kemanusiaan dasar.
Pulau Buru, yang awalnya hanya sebutan asing baginya, menjadi tempat pembuangan terbesar dalam sejarah Indonesia. Sukiman dan ratusan tahanan lain dipaksa menanam padi di lahan hutan lebat, mengubah ekosistem alami menjadi areal pertanian yang dikendalikan militer. Tugas ini bukan sekadar produktivitas, melainkan bagian dari strategi penguasaan sumber daya dan pembersihan ideologi yang dipraktikkan secara sistematis. Setiap gerak mereka dipantau, dan setiap pelanggaran dikenai hukuman fisik.
Ketika Sukiman mencabuti rumput di sawah, ia tiba-tiba dipanggil komandan. Tanpa alasan jelas, ia diseret ke pengadilan kecil di hadapan tentara yang mengancam, “Kamu membantu orang bersalah!” Ia tak tahu siapa yang dibantu, tetapi tetap dipukul dengan rotan dan dipaksa berlari keliling lapangan lima kali. Trauma itu menggema dalam ingatannya, mengingatkan pada kekerasan pertama yang dialaminya di Gedung Jefferson, Yogyakarta, saat masih dalam masa penangkapan awal. Di kedua tempat, kebenaran tidak dihargai—yang ada hanyalah ketaatan.
Di Unit VIII Wanakencana, Sukiman tinggal dalam barak sempit berukuran 6x12 meter, menampung hingga 50 orang. Mereka tidur berdampingan di galar bambu, tanpa privasi, tanpa kebutuhan dasar yang terpenuhi. Makanan terbatas—kadang hanya nasi tanpa lauk, atau jagung. Hidup di sana bukan tentang rehabilitasi, melainkan penghancuran. Kekerasan bukan kejadian terisolasi, melainkan budaya yang dijalankan sebagai alat pengendalian.
Pulau Buru bukan hanya penjara fisik, tetapi juga tempat penghancuran identitas. Setiap tahanan dipaksa menyerah pada narasi militer yang menyatakan mereka sebagai ancaman. Tidak ada proses peradilan, tidak ada hak untuk membela diri. Kekuasaan militer yang menguasai pulau ini tidak hanya membangun kamp, tetapi juga membangun sistem yang menjamin keberlangsungan dominasi melalui kerja paksa, pengawasan ekstrem, dan kekejaman rutin.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Hakim Batalkan Vonis Kartel Bunga, AFPI Soroti Kepatuhan Regulator
Putusan pengadilan membatalkan dakwaan kartel bunga terhadap platform pinjaman daring, dengan menilai kepatuhan terhadap arahan OJK sebagai dasar operasional yang sah.
24 Oktober 2026

Vila Eks Hitler di Alpen Terbakar, Satu Tersangka Ditahan
Sebuah bangunan bersejarah milik Adolf Hitler di pegunungan Alpen terbakar, dengan satu orang ditangkap dan penyelidikan masih berlangsung.
24 Oktober 2026

Unjuk Rasa Massal Guncang Prancis, 135 Orang Ditangkap
Aksi protes besar-besaran di berbagai kota Prancis menewaskan 135 orang ditangkap, menyusul kemarahan sosial terhadap kebijakan pemerintah dan aksi kongres partai sayap kanan.
24 Oktober 2026

Pimpinan CTIF di Singapura Tekankan Kolaborasi Intelijen Anti-Terorisme
Mayjen TNI Rio Firdianto memimpin rapat CTIF Council di Singapura, perkuat sinergi intelijen sembilan negara hadapi ancaman terorisme sekaligus peringati lima tahun berdirinya fasilitas kolaborasi tersebut.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.23 WITA

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.21 WITA

