Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Tawas Bisa Kurangi Bau Badan, Tapi Bukan Solusi Ajaib

Tawas efektif mengurangi bau badan melalui sifat antimikroba potassium alum, tetapi tidak menghentikan keringat dan tidak cocok untuk semua kulit.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 22.17 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Tawas Bisa Kurangi Bau Badan, Tapi Bukan Solusi Ajaib📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Tawas, benda berbentuk kristal bening atau putih, kerap dipandang sebagai solusi alami mengatasi bau badan. Meski sering disebut sebagai deodoran alami, penggunaannya tidak serta-merta menghilangkan keringat atau menjamin kebersihan sepanjang hari. Faktanya, tawas yang digunakan dalam produk perawatan kulit umumnya mengandung potassium alum, jenis garam aluminium yang telah terbukti memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan bakteri. Bakteri ini merupakan penyebab utama terbentuknya aroma tidak sedap pada tubuh, terutama di area seperti ketiak yang lembap dan kaya nutrisi bagi mikroorganisme.

Keringat sendiri sejatinya tidak berbau. Aroma muncul ketika keringat bereaksi dengan bakteri di permukaan kulit, yang kemudian menghasilkan senyawa berbau. Tawas bekerja dengan mengurangi jumlah bakteri berbahaya tersebut melalui sifat antimikrobanya. Dengan menekan pertumbuhan mikroorganisme, proses pembentukan bau badan dapat diminimalkan. Namun, penting dipahami bahwa tawas bukan antiperspiran; ia tidak mengurangi produksi keringat, melainkan fokus pada pengendalian aroma.

Penggunaan tawas tidak otomatis lebih unggul dibanding produk deodoran lain. Efektivitasnya tergantung pada kondisi kulit, tingkat keringat, dan penyebab bau badan individu. Produk deodoran modern dapat memanfaatkan berbagai bahan aktif seperti penyerap keringat, penetrator aroma, atau agen antimikroba lain yang telah diuji secara klinis. Karena itu, menyamakan tawas dengan semua deodoran lain tidak tepat—setiap produk memiliki keunggulan dan keterbatasan tersendiri.

Meski dianggap alami, tawas tidak bebas risiko. Beberapa kasus melaporkan iritasi kulit, seperti dermatitis iritan pada ketiak, setelah pemakaian deodoran berbahan alum. Reaksi ini menunjukkan bahwa bahan alami pun bisa menyebabkan reaksi negatif pada kulit sensitif atau terluka. Jika muncul rasa perih, gatal, atau kemerahan, penggunaan harus segera dihentikan. Selain itu, tawas tidak disarankan untuk digunakan pada kulit yang terluka atau mengalami peradangan.

Untuk menjaga kebersihan tubuh secara optimal, kebiasaan harian tetap menjadi fondasi utama. Mandi rutin, penggantian pakaian basah, serta pemilihan produk yang sesuai dengan jenis kulit menjadi langkah penting. Jika bau badan muncul secara tiba-tiba, sangat kuat, atau tidak mereda meski kebersihan dijaga, sebaiknya konsultasikan ke tenaga kesehatan, karena bisa jadi tanda kondisi medis tertentu. Tawas adalah salah satu opsi, bukan solusi tunggal.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya