Senin, 12 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Transaksi QRIS Melonjak, Jadi Bukti Daya Beli Masyarakat Tetap Kuat

Peningkatan lebih dari 100% transaksi QRIS dan pertumbuhan konsumsi di atas 5% menjadi indikator kuat daya beli masyarakat yang masih stabil di tengah isu pelemahan ekonomi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 12 Oktober 2026, 17.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 9x dibuka
Transaksi QRIS Melonjak, Jadi Bukti Daya Beli Masyarakat Tetap Kuat📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Peningkatan signifikan dalam volume transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menjadi bukti nyata bahwa aktivitas konsumsi masyarakat Indonesia belum menunjukkan tanda pelambatan. Data yang disampaikan oleh pemerintah menunjukkan kenaikan lebih dari 100% dalam jumlah transaksi QRIS, menandakan tingginya mobilitas dan aktivitas belanja digital serta konvensional secara bersamaan. Angka ini menepis narasi tentang melemahnya daya beli yang sempat beredar di publik.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad H. Wibowo menegaskan bahwa tren ini lebih mencerminkan pergeseran pola konsumsi daripada penurunan kapasitas belanja masyarakat secara umum. Banyak warga kini lebih memilih mengalokasikan pengeluaran mereka ke sektor perjalanan, pariwisata, layanan makanan dan akomodasi, serta belanja online. Perubahan ini terlihat jelas dalam data aktivitas ekonomi yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

BPS mencatat pertumbuhan konsumsi masyarakat mencapai lebih dari 5% pada semester pertama tahun 2026. Sektor restoran dan hotel menunjukkan kenaikan lebih dari 6%, sementara transportasi juga mengalami kenaikan signifikan seiring meningkatnya mobilitas. Pergeseran ini, menurut Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, didorong oleh perubahan gaya hidup yang menekankan pada pengalaman dan fleksibilitas, termasuk preferensi terhadap transaksi digital dibandingkan transaksi langsung.

Pemerintah tetap waspada terhadap potensi tekanan inflasi yang berasal dari biaya produksi dan keterbatasan pasokan, bukan dari permintaan yang tinggi. Inflasi jenis cost-push, seperti pada cabai dan barang elektronik yang bergantung pada impor, menjadi fokus utama. Untuk itu, strategi pengendalian harga akan lebih difokuskan pada penguatan pasokan barang dan jasa, serta koordinasi antarlembaga untuk memperbaiki akurasi pencatatan aktivitas ekonomi di tingkat daerah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya