Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Transformasi Industri Teknologi, Penyerapan Tenaga Kerja Menurun

Pertumbuhan industri tak lagi otomatis menyerap tenaga kerja seperti dulu, karena pergeseran ke arah teknologi yang mengurangi ketergantungan pada tenaga manual.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 17.34 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 144x dibuka
Transformasi Industri Teknologi, Penyerapan Tenaga Kerja Menurun📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pertumbuhan sektor industri di Tanah Air kini tidak lagi sejalan dengan peningkatan jumlah lapangan kerja seperti pada masa lalu. Perubahan mendasar terjadi akibat transformasi digital dan otomatisasi yang menggantikan pekerjaan tradisional dengan sistem berbasis teknologi. Menteri Perindustrian M. Sarmuji menegaskan bahwa meskipun industri pengolahan masih menjadi penopang utama penyerapan tenaga kerja—mencapai lebih dari 20 juta pekerja—karakteristiknya telah berubah secara signifikan.

Ia menjelaskan bahwa industri yang dulu bersifat padat karya kini lebih mengandalkan mesin dan sistem otomatis, sehingga mengurangi kebutuhan tenaga manusia secara proporsional. Hal ini menyebabkan efisiensi produksi meningkat, namun dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja menurun. “Kenaikan aktivitas ekonomi tidak lagi diikuti kenaikan jumlah pekerja dalam skala yang sama,” ujar Sarmuji dalam kunjungan ke Balai Diklat Industri Jakarta.

Angka menunjukkan perubahan nyata: dulu, pertumbuhan ekonomi 1% mampu menyerap sekitar 400.000 tenaga kerja, tetapi kini angka tersebut turun menjadi sekitar 300.000 pekerja untuk hasil yang sama. Fenomena ini menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam pendekatan ketenagakerjaan. Pemerintah kini menekankan pentingnya peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pelatihan vokasi yang berbasis kompetensi industri terkini.

Solusi jangka panjang yang disarankan adalah memperkuat keterampilan tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan pasar global. Kerja sama lintas kementerian dimaksimalkan untuk menyelaraskan program pelatihan dengan permintaan industri dalam dan luar negeri. Salah satu strategi utama adalah memanfaatkan keunggulan tenaga kerja terampil Indonesia dengan mengekspor tenaga kerja ke negara-negara yang membutuhkan, khususnya di sektor manufaktur dan teknik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya