BEI Pantau Transaksi Saham PNSE dan DKHH Akibat Volatilitas Ekstrem
Bursa Efek Indonesia memantau aktivitas pasar tak lazim pada saham PNSE dan DKHH menyusul kenaikan harga yang tidak wajar dalam periode singkat.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Bursa Efek Indonesia (BEI) kini memperhatikan secara ketat pergerakan saham PT Pudjiadi & Sons Tbk. (PNSE) dan PT Cipta Sarana Medika Tbk. (DKHH) sejak Kamis, 22 Oktober 2026, menyusul terjadinya fluktuasi harga yang jauh melampaui pola normal. Kegiatan perdagangan kedua emiten tersebut dikategorikan sebagai Unusual Market Activity (UMA), yang menandakan adanya pergerakan harga yang mencurigakan dan berpotensi mengganggu stabilitas pasar.
Saham PNSE sempat mengalami penurunan 6,43% ke level Rp655 pada awal perdagangan, meski dalam satu bulan terakhir naik hingga 34,22%, dan turun 10,88% sejak awal tahun. Sementara itu, saham DKHH menguat 3,73% pada hari itu, dengan kenaikan bulanan mencapai 101,45% dan kenaikan year to date sebesar 73,75%. Kenaikan drastis ini menjadi alasan utama BEI memperkuat pengawasan terhadap aktivitas perdagangan kedua emiten.
BEI menegaskan bahwa pengumuman UMA bukan indikasi adanya pelanggaran hukum, tetapi bentuk langkah pencegahan terhadap potensi manipulasi pasar dan risiko yang mengancam kepentingan investor. Dalam siaran resminya, BEI menyampaikan bahwa pihaknya sedang menganalisis pola transaksi dan menunggu respons dari kedua emiten terkait permintaan konfirmasi.
Investor diminta untuk berhati-hati, tidak langsung mengambil keputusan berdasarkan pergerakan harga jangka pendek. Selain memantau keterbukaan informasi emiten, para pemegang saham juga diminta mempertimbangkan rencana tindakan korporasi yang belum disetujui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), serta potensi perubahan pasar yang dapat terjadi di masa depan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Agoes Projosasmito Akuisisi Saham BRMS Senilai Rp2,4 M
Wakil Presiden Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk. membeli 5,5 juta saham BRMS senilai total Rp2,46 miliar dalam dua transaksi terpisah pada 22 Oktober 2026.
24 Oktober 2026

Inflasi Jepang Naik, BOJ Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Lagi
Inflasi inti Jepang mencapai 2,1% pada September 2026, tertinggi sepanjang tahun, mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan di akhir tahun.
24 Oktober 2026

Saham Murah Bukan Jaminan Menguntungkan, Ini Peringatan Ahli
Investor diminta tidak asal beli saham karena harga turun, melainkan menilai kualitas bisnis dan valuasi secara komprehensif.
24 Oktober 2026

Menko Airlangga: Bukan Hanya MSCI yang Menentukan Kredibilitas Pasar Modal
Menko Perekonomian menegaskan bahwa keputusan MSCI bukan satu-satunya penentu kredibilitas pasar modal Indonesia, sekaligus menekankan kinerja fundamental yang kuat dan stabilitas pasar dalam tiga hari terakhir.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

BRI Perluas Akses Magang Nasional untuk Generasi Muda
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

Rasio Elektrifikasi Nasional Tembus 99,8 Persen, Tantangan di Desa Masih Menanti
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

Mentan Tekankan Kesiapan Swasembada Pangan Hadapi La Nina
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

DKI Jakarta dan Pertamina Hulu Mahakam Raih Penghargaan Energi Subroto 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Prabowo Siap Salurkan Rp400 T untuk Petani dan Nelayan Tahun Depan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Pemerintah Alihkan Ekspor Gas ke Dalam Negeri untuk Kelistrikan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Stok Beras Nasional Tembus 4,56 Juta Ton, Tertinggi Sejak 1992
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Indonesia Diminta Respons Kritik MSCI dengan Strategi, Bukan Emosi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.35 WITA

