Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Stok Beras Nasional Tembus 4,56 Juta Ton, Tertinggi Sejak 1992

Pemerintah melaporkan stok beras nasional mencapai 4,56 juta ton pada Oktober 2026, tertinggi sepanjang sejarah, dengan ketersediaan diperkirakan cukup hingga Juli 2027.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Stok Beras Nasional Tembus 4,56 Juta Ton, Tertinggi Sejak 1992📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Stok beras nasional pada bulan Oktober 2026 telah mencapai angka 4,56 juta ton, menurut laporan resmi kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna Kabinet Merah Putih. Angka ini diklaim sebagai rekor tertinggi dalam sejarah Indonesia sejak tahun 1992, melampaui capaian sebelumnya yang hanya mencapai 2,6 juta ton pada tahun 1984. Pemerintah menegaskan bahwa ketersediaan beras tersebut telah melebihi level swasembada yang pernah diraih pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto.

Selain stok di gudang, pemerintah memperhitungkan dua komponen utama lainnya dalam perhitungan ketersediaan beras. Pertama, estimasi produksi dari tanaman yang masih berada di lahan atau disebut standing crop, diperkirakan mencapai 10 juta ton. Kedua, volume beras yang berada di sektor rumah tangga, hotel, dan tempat usaha (horeka), yang diperkirakan mencapai 10 juta ton. Dengan demikian, total ketersediaan beras secara nasional diperkirakan mencapai 25 juta ton.

Berdasarkan perkiraan konsumsi beras nasional sebesar 2,5 juta ton per bulan, pemerintah menyatakan bahwa stok yang ada mampu menopang kebutuhan masyarakat hingga bulan Juli 2027. Hal ini menunjukkan stabilitas pasokan yang kuat, bahkan memungkinkan adanya cadangan strategis dalam menghadapi fluktuasi musim atau kondisi darurat. Pemerintah menilai pencapaian ini sebagai bukti keberhasilan kebijakan pertanian yang terintegrasi dan terukur.

Dalam laporan tersebut, Menteri Pertanian juga menyoroti peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) dari 48 menjadi 131, yang disebut sebagai yang tertinggi sejak kemerdekaan. Peningkatan ini dikaitkan dengan dua kebijakan utama: penurunan harga pupuk sebesar 20 persen dan kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah. Kedua kebijakan tersebut dinilai telah memberikan manfaat langsung kepada sekitar 115 juta petani di seluruh Indonesia, sekaligus mendorong produktivitas dan kesejahteraan petani secara nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya