Saham Murah Bukan Jaminan Menguntungkan, Ini Peringatan Ahli
Investor diminta tidak asal beli saham karena harga turun, melainkan menilai kualitas bisnis dan valuasi secara komprehensif.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Koreksi harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) belakangan ini mengundang perhatian para pelaku pasar, terlebih menyusul isu pengusulan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI yang berpotensi mengubah status dari emerging market menjadi standalone market. Pergeseran ini memicu sentimen negatif, sehingga banyak saham mengalami penurunan signifikan. Namun, seorang pakar investasi menekankan bahwa penurunan harga bukan indikator otomatis bahwa suatu saham telah menjadi murah.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa keputusan investasi harus didasarkan pada analisis menyeluruh, bukan hanya pada harga saham yang turun. Ia menyoroti pentingnya memperhatikan faktor fundamental seperti profitabilitas, pertumbuhan pendapatan, arus kas, beban utang, dan kualitas tata kelola perusahaan. Menurutnya, kombinasi antara laba yang kuat dan valuasi yang menarik justru menjadi kunci menilai potensi suatu emiten.
Dari 146 perusahaan dengan pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, sebanyak 61 perusahaan mampu mencatat return on equity (ROE) di atas 15%, menunjukkan efisiensi dalam mengelola modal pemegang saham. Di sektor perbankan dan konsumsi, beberapa emiten bahkan mencatat ROE hingga 20%, dengan rasio price to earnings (PE) di bawah 10 kali. Rasio ini menggambarkan bahwa harga saham relatif terjangkau dibandingkan dengan laba yang dihasilkan perusahaan.
Namun, Pandu menekankan bahwa indikator seperti ROE, PE, dan price to book value (PBV) tidak boleh dilihat secara terpisah. Setiap rasio harus dianalisis bersamaan dengan kualitas bisnis dan kondisi operasional perusahaan. Penurunan harga saham yang signifikan tidak serta-merta menjadi sinyal beli, melainkan harus dikaji secara mendalam agar tidak terjebak dalam kesalahan persepsi pasar.
Peluang investasi, menurutnya, tersebar di berbagai sektor dan tidak terbatas pada satu bidang tertentu. Kunci utama tetap pada pendekatan yang holistik: memadukan penilaian kualitas bisnis dengan valuasi saham. Dengan demikian, investor dapat menghindari kesalahan akibat emosi pasar dan membangun portofolio yang berkelanjutan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

BEI Pantau Transaksi Saham PNSE dan DKHH Akibat Volatilitas Ekstrem
Bursa Efek Indonesia memantau aktivitas pasar tak lazim pada saham PNSE dan DKHH menyusul kenaikan harga yang tidak wajar dalam periode singkat.
24 Oktober 2026

Agoes Projosasmito Akuisisi Saham BRMS Senilai Rp2,4 M
Wakil Presiden Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk. membeli 5,5 juta saham BRMS senilai total Rp2,46 miliar dalam dua transaksi terpisah pada 22 Oktober 2026.
24 Oktober 2026

Inflasi Jepang Naik, BOJ Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Lagi
Inflasi inti Jepang mencapai 2,1% pada September 2026, tertinggi sepanjang tahun, mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan di akhir tahun.
24 Oktober 2026

Menko Airlangga: Bukan Hanya MSCI yang Menentukan Kredibilitas Pasar Modal
Menko Perekonomian menegaskan bahwa keputusan MSCI bukan satu-satunya penentu kredibilitas pasar modal Indonesia, sekaligus menekankan kinerja fundamental yang kuat dan stabilitas pasar dalam tiga hari terakhir.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

BRI Perluas Akses Magang Nasional untuk Generasi Muda
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

Rasio Elektrifikasi Nasional Tembus 99,8 Persen, Tantangan di Desa Masih Menanti
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

Mentan Tekankan Kesiapan Swasembada Pangan Hadapi La Nina
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

DKI Jakarta dan Pertamina Hulu Mahakam Raih Penghargaan Energi Subroto 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Prabowo Siap Salurkan Rp400 T untuk Petani dan Nelayan Tahun Depan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Pemerintah Alihkan Ekspor Gas ke Dalam Negeri untuk Kelistrikan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Stok Beras Nasional Tembus 4,56 Juta Ton, Tertinggi Sejak 1992
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Indonesia Diminta Respons Kritik MSCI dengan Strategi, Bukan Emosi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.35 WITA

