Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Saham Murah Bukan Jaminan Menguntungkan, Ini Peringatan Ahli

Investor diminta tidak asal beli saham karena harga turun, melainkan menilai kualitas bisnis dan valuasi secara komprehensif.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Saham Murah Bukan Jaminan Menguntungkan, Ini Peringatan Ahli📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Koreksi harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) belakangan ini mengundang perhatian para pelaku pasar, terlebih menyusul isu pengusulan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI yang berpotensi mengubah status dari emerging market menjadi standalone market. Pergeseran ini memicu sentimen negatif, sehingga banyak saham mengalami penurunan signifikan. Namun, seorang pakar investasi menekankan bahwa penurunan harga bukan indikator otomatis bahwa suatu saham telah menjadi murah.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa keputusan investasi harus didasarkan pada analisis menyeluruh, bukan hanya pada harga saham yang turun. Ia menyoroti pentingnya memperhatikan faktor fundamental seperti profitabilitas, pertumbuhan pendapatan, arus kas, beban utang, dan kualitas tata kelola perusahaan. Menurutnya, kombinasi antara laba yang kuat dan valuasi yang menarik justru menjadi kunci menilai potensi suatu emiten.

Dari 146 perusahaan dengan pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, sebanyak 61 perusahaan mampu mencatat return on equity (ROE) di atas 15%, menunjukkan efisiensi dalam mengelola modal pemegang saham. Di sektor perbankan dan konsumsi, beberapa emiten bahkan mencatat ROE hingga 20%, dengan rasio price to earnings (PE) di bawah 10 kali. Rasio ini menggambarkan bahwa harga saham relatif terjangkau dibandingkan dengan laba yang dihasilkan perusahaan.

Namun, Pandu menekankan bahwa indikator seperti ROE, PE, dan price to book value (PBV) tidak boleh dilihat secara terpisah. Setiap rasio harus dianalisis bersamaan dengan kualitas bisnis dan kondisi operasional perusahaan. Penurunan harga saham yang signifikan tidak serta-merta menjadi sinyal beli, melainkan harus dikaji secara mendalam agar tidak terjebak dalam kesalahan persepsi pasar.

Peluang investasi, menurutnya, tersebar di berbagai sektor dan tidak terbatas pada satu bidang tertentu. Kunci utama tetap pada pendekatan yang holistik: memadukan penilaian kualitas bisnis dengan valuasi saham. Dengan demikian, investor dapat menghindari kesalahan akibat emosi pasar dan membangun portofolio yang berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya