Menko Airlangga: Bukan Hanya MSCI yang Menentukan Kredibilitas Pasar Modal
Menko Perekonomian menegaskan bahwa keputusan MSCI bukan satu-satunya penentu kredibilitas pasar modal Indonesia, sekaligus menekankan kinerja fundamental yang kuat dan stabilitas pasar dalam tiga hari terakhir.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa Morgan Stanley Capital International (MSCI) bukan satu-satunya lembaga yang menjadi acuan global dalam penilaian pasar keuangan. Pernyataan ini disampaikan menyusul usulan MSCI untuk menurunkan kelas Indeks MSCI Indonesia dari emerging market ke standalone market, yang sempat memicu kekhawatiran pasar dan menyebabkan IHSG turun hingga 16 persen dalam sesi perdagangan. Airlangga menekankan bahwa eksistensi lembaga lain seperti S&P Global Ratings dan FTSE Russell memberikan alternatif penilaian yang tak kalah relevan.
Ia menekankan bahwa tidak ada satu lembaga yang memiliki otoritas mutlak dalam menentukan arah arus investasi global. “Banyak lembaga pemeringkat lain yang berperan, termasuk S&P dan FTSE Russell. Karena itu, keputusan dari satu pihak tidak bisa menjadi acuan tunggal,” ujarnya di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat. Menurutnya, jika MSCI tidak merekomendasikan saham Indonesia, investor dari wilayah lain tetap bisa mendapatkan rekomendasi positif dari lembaga pemeringkat lain.
Airlangga mengimbau para pelaku pasar untuk tidak panik, mengingat IHSG telah kembali membaik dan berada di zona positif dalam tiga hari terakhir. Ia menekankan bahwa investasi di pasar modal Indonesia tetap menjanjikan imbal hasil yang jelas, terutama melalui pembayaran dividen yang konsisten dari emiten-emiten yang melantai. “Kita tidak perlu khawatir. Pasar sudah kembali hijau, dan return dari dividen tetap menjadi jaminan bagi investor,” tegasnya.
Di tengah dinamika tersebut, Airlangga menegaskan bahwa pasar modal Indonesia sedang menjalani proses reformasi struktural, termasuk melalui agenda demutualisasi bursa. Ia menilai kinerja fundamental emiten telah sangat baik, tercermin dari laba bersih yang stabil dan rasio pembayaran dividen yang tinggi. Sisa tantangan utama saat ini hanya terkait implementasi aturan free float minimal 15 persen, yang belum sepenuhnya dipenuhi sejumlah perusahaan.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi bukan soal kualitas ekonomi atau kinerja emiten, melainkan pada aspek tata kelola (governance) dan kesiapan pasar terhadap standar internasional, khususnya terkait ketersediaan saham publik. “Yang penting bukan fundamental ekonomi atau emiten, tapi tata kelola dan kesiapan pasar dalam aspek free float,” ujarnya.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

BEI Pantau Transaksi Saham PNSE dan DKHH Akibat Volatilitas Ekstrem
Bursa Efek Indonesia memantau aktivitas pasar tak lazim pada saham PNSE dan DKHH menyusul kenaikan harga yang tidak wajar dalam periode singkat.
24 Oktober 2026

Agoes Projosasmito Akuisisi Saham BRMS Senilai Rp2,4 M
Wakil Presiden Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk. membeli 5,5 juta saham BRMS senilai total Rp2,46 miliar dalam dua transaksi terpisah pada 22 Oktober 2026.
24 Oktober 2026

Inflasi Jepang Naik, BOJ Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Lagi
Inflasi inti Jepang mencapai 2,1% pada September 2026, tertinggi sepanjang tahun, mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan di akhir tahun.
24 Oktober 2026

Saham Murah Bukan Jaminan Menguntungkan, Ini Peringatan Ahli
Investor diminta tidak asal beli saham karena harga turun, melainkan menilai kualitas bisnis dan valuasi secara komprehensif.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

BRI Perluas Akses Magang Nasional untuk Generasi Muda
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

Rasio Elektrifikasi Nasional Tembus 99,8 Persen, Tantangan di Desa Masih Menanti
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

Mentan Tekankan Kesiapan Swasembada Pangan Hadapi La Nina
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

DKI Jakarta dan Pertamina Hulu Mahakam Raih Penghargaan Energi Subroto 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Prabowo Siap Salurkan Rp400 T untuk Petani dan Nelayan Tahun Depan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Pemerintah Alihkan Ekspor Gas ke Dalam Negeri untuk Kelistrikan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Stok Beras Nasional Tembus 4,56 Juta Ton, Tertinggi Sejak 1992
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.36 WITA

Indonesia Diminta Respons Kritik MSCI dengan Strategi, Bukan Emosi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.35 WITA

