Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Unjuk Rasa di Tirana Memanas, Polisi Gunakan Peluru Karet

Kekerasan memuncak dalam aksi demonstrasi anti-pemerintah di Tirana, Albania, setelah polisi menembakkan peluru karet dan menangkap ratusan massa yang menuntut mundurnya Perdana Menteri Edi Rama.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 09.30 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 127x dibuka
Unjuk Rasa di Tirana Memanas, Polisi Gunakan Peluru Karet📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Aksi protes di ibu kota Albania, Tirana, berubah menjadi bentrokan sengit pada hari kelima, dengan aparat keamanan menghadapi massa yang menyerbu barisan pengamanan. Pengunjuk rasa, sebagian besar pelajar dan mahasiswa, menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama yang memimpin Partai Sosialis sejak 2013. Aksi yang awalnya damai kini meluas dengan penggunaan batu, bom molotov, dan kembang api yang dilemparkan ke arah kantor pemerintah dan lokasi strategis di pusat kota.

Respons polisi berupa tembakan gas air mata, meriam air, dan penggunaan tongkat memperburuk ketegangan. Kepolisian Nasional Albania mengonfirmasi penggunaan peluru karet untuk pertama kalinya sejak aksi dimulai, yang disebut dilakukan secara terbatas oleh Kepala Kepolisian Skender Hita dalam konferensi pers. Tindakan tersebut memicu kekhawatiran atas eskalasi kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan, terutama menyusul laporan 9 demonstran dan 4 petugas yang mengalami luka serius dan harus dirawat.

Sejauh ini, 167 orang telah ditangkap selama lima hari aksi, sementara 132 anggota polisi mengalami cedera. Tujuh petugas lainnya dinonaktifkan sementara untuk menjalani penyelidikan terkait dugaan penyalahgunaan wewenang. Kementerian Kesehatan melaporkan jumlah korban luka meningkat secara signifikan, menandai tingkat kekerasan yang tak pernah terjadi sebelumnya dalam gelombang protes ini.

Perdana Menteri Edi Rama, yang kini menjabat untuk periode keempat, mengunjungi area yang rusak akibat kerusuhan. Ia menegaskan tetap membuka ruang dialog dan berkomitmen melindungi hak berpendapat, termasuk bagi kalangan pelajar. Namun, Rama menolak mundur dan menyalahkan pihak oposisi konservatif sebagai pemicu kekacauan. Ia menekankan pentingnya menjaga ketertiban dan memperingatkan akan tindakan tegas terhadap perusakan properti.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya