Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Yura Yunita Hadirkan "Pertiwi" untuk Suara yang Tak Berani Bersuara

Penyanyi Yura Yunita meluncurkan lagu baru berjudul "Pertiwi" sebagai refleksi atas keheningan yang melingkupi kebenaran dan harapan dalam masa sulit.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 14.45 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Yura Yunita Hadirkan "Pertiwi" untuk Suara yang Tak Berani Bersuara
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Lagu terbaru Yura Yunita, berjudul "Pertiwi", resmi dirilis dalam bentuk audio dan video musik secara serentak, menawarkan ruang refleksi mendalam bagi pendengar. Dalam pesan resmi yang disampaikan, ia mengajak pendengar mencari ketenangan sejenak, membiarkan lagu berbicara sendiri, lalu menyimak detik-detik hening setelahnya untuk mengamati apa yang muncul dalam pikiran dan perasaan. Setiap detik yang terasa sesak, menurutnya, adalah jejak dari pengalaman hidup yang tak bisa diabaikan.

Lirik yang dibuat oleh Donne Maula menggambarkan realitas sosial yang penuh ketegangan: kejujuran yang terpendam dalam sunyi, keberanian yang dipaksa diam, dan kebenaran yang diusir dari ruang publik. Namun, di tengah narasi yang kelam, terdapat pesan penyelamatan—bahwa "Pertiwi, masih berdiri, jaga harap di sisa nyali, percayalah kau tak sendiri. Dengarlah dia bernyanyi, itu suara kita yang menolak mati." Harapan itu tak datang dari kekuatan besar, melainkan dari kesadaran kolektif yang masih tersisa.

Arsitektur musik dirancang oleh Iwan Popo, yang menyajikan aransemen megah namun tak mengalahkan vokal Yura. Suara yang lembut dan sayup tetap menjadi pusat, diperkuat oleh alunan yang tidak berisik, memungkinkan setiap frasa terasa intim dan personal. Dengan begitu, pendengar tidak hanya mendengar lagu, tetapi merasakan setiap nada sebagai bagian dari pengalaman pribadi.

Video musik yang disutradarai Kathleen Malay dan dikoreografi Siko Setyanto dirancang tanpa penjelasan konsep terlebih dahulu. Yura sengaja membiarkan karya tersebut tetap terbuka, memungkinkan setiap penonton menemukan maknanya sendiri dalam konteks hidupnya masing-masing. Dengan begitu, "Pertiwi" bukan sekadar lagu, melainkan ruang dialog antara musik dan pengalaman manusia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya