Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

3 Strategi Utama Trenggono Dorong Ekonomi Kelautan Nasional

Pemerintah mempercepat swasembada garam, modernisasi kapal nelayan, dan kembangkan Kampung Nelayan Merah Putih untuk tingkatkan kesejahteraan dan daya saing sektor kelautan hingga 2029.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 16.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
3 Strategi Utama Trenggono Dorong Ekonomi Kelautan Nasional
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah kini mengakselerasi transformasi sektor kelautan dan perikanan melalui tiga program utama yang dipimpin Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Tujuannya adalah membangun fondasi ekonomi biru yang berkelanjutan, berdaya saing tinggi, dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat pesisir. Dengan pendekatan terintegrasi, tiga inisiatif strategis ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan impor, meningkatkan kapasitas produksi, serta menciptakan pusat-pusat ekonomi baru di wilayah pesisir Indonesia.

Pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (KSIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, menjadi fondasi utama tercapainya swasembada garam pada 2029. Tahap pertama dengan luas 616 hektare telah selesai dibangun dan saat ini sedang dalam uji coba produksi. Target panen perdana dijadwalkan November 2026. Secara keseluruhan, area yang akan dikembangkan mencapai 10.764 hektare, termasuk 2.000 hektare melalui skema kerja sama masyarakat dan 8.000 hektare melalui investasi swasta. Produksi garam nasional ditargetkan mencapai 2,5 juta ton pada 2026, naik menjadi 3,5 juta ton di 2027, dan 5 juta ton pada 2029, dengan impor turun dari 2,6 juta ton menjadi nol dalam rentang waktu tersebut. Garam hasil produksi KSIGN memiliki tingkat kemurnian NaCl hingga 97%, memenuhi standar industri meskipun fasilitas pemurnian belum sepenuhnya beroperasi.

Di bidang perikanan tangkap, pemerintah menargetkan pembangunan 4.582 kapal nelayan modern hingga 2029, dengan fokus pada kapal berukuran 10 hingga 2.500 Gross Tonnage. Pada 2026, 50 kapal berukuran 30 GT akan dibangun sebagai langkah awal. Jenis kapal yang dibangun mencakup berbagai alat tangkap seperti pukat cincin, gillnet, handline, dan kapal pengangkut serta kapal pemroses ikan. Investasi total untuk program ini mencapai Rp125,5 triliun, sekaligus mendorong industri galangan kapal dalam negeri. Program ini diharapkan menyerap tenaga kerja hingga 89.000 orang, meningkatkan produksi perikanan tangkap menjadi 2,3 juta ton per tahun, serta menambah PNBP sebesar Rp1,8 triliun dan pendapatan nelayan Rp20,7 triliun.

Sebagai bagian dari ekonomi biru, Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dikembangkan sebagai pusat ekonomi pesisir berkelanjutan. Program ini menargetkan pembangunan 1.389 lokasi, dengan 100 titik diresmikan dalam waktu dekat. Setiap lokasi dilengkapi infrastruktur pendukung seperti cold storage, dermaga, bengkel kapal, pabrik es, SPBU kapal, dan sentra kuliner. Pendekatan pengembangan disesuaikan dengan karakteristik lokal dan daya dukung lingkungan, menghindari eksploitasi berlebihan. Dengan model ini, pemerintah optimistis produksi ikan dari 1.369 KNMP dapat mencapai 2,8 juta ton per tahun, sekaligus menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan mandiri di kawasan pesisir.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya