Paparan Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis, Ini Penjelasan Ahli
Paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau memicu kekhawatiran kesehatan pernapasan, termasuk potensi silikosis akibat kandungan silika kristalin, meski risiko tersebut rendah dalam paparan singkat.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Erupsi Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir menghasilkan abu vulkanik yang terbawa angin hingga wilayah Jakarta dan sekitarnya, menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan pernapasan masyarakat. Meski dampak langsung umumnya berupa iritasi saluran napas, ada potensi risiko lebih serius jika partikel abu mengandung silika kristalin bebas dalam jumlah tinggi dan terhirup secara berulang.
Partikel abu yang berukuran kurang dari 4 mikrometer mampu menembus alveolus, bagian terdalam paru-paru, sehingga berpotensi menimbulkan kerusakan jangka panjang. Menurut keterangan ahli dari RS Paru Persahabatan, paparan silika kristalin dalam jangka waktu bertahun-tahun dapat menyebabkan fibrosis paru, kondisi di mana jaringan paru menjadi kaku dan fungsi pernapasan menurun secara signifikan. Proses ini dikenal sebagai silikosis, penyakit yang biasanya muncul pada pekerja di sektor pertambangan, konstruksi, dan industri keramik.
Namun, silikosis tidak terjadi secara instan. Diperlukan paparan berkepanjangan—biasanya lebih dari 10 tahun—untuk munculnya gejala klinis. Oleh karena itu, masyarakat yang terpapar abu vulkanik dalam periode singkat tidak perlu langsung mengkhawatirkan silikosis. Risiko utama dalam jangka pendek tetap berupa batuk, iritasi tenggorokan, dan memburuknya kondisi seperti asma atau bronkitis.
Pencegahan tetap krusial. Masyarakat disarankan memakai masker N95 saat beraktivitas di luar ruangan, menutup rapat jendela dan pintu untuk menghindari masuknya abu, serta membatasi waktu di luar rumah saat kualitas udara buruk. Langkah ini efektif menurunkan risiko gangguan pernapasan akut, sekaligus mengurangi paparan terhadap partikel berbahaya yang bisa menumpuk dalam sistem pernapasan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Iritasi Kulit, Ini Penjelasannya
Partikel abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menyebabkan iritasi kulit, terutama pada orang dengan kulit sensitif atau barrier yang sudah rusak.
9 September 2026

Dua Masker Lebih Efektif? Ini Penjelasan Dokter Paru
Penggunaan dua masker, terutama tipe bedah, dinilai bisa meningkatkan perlindungan dari abu vulkanik meski belum ada bukti ilmiah pasti.
9 September 2026

Perlindungan Anabul Saat Hujan Abu Vulkanik
Pemilik hewan peliharaan di lima provinsi terdampak harus segera lindungi anabul dari paparan abu vulkanik dengan langkah-langkah praktis dan preventif.
9 September 2026

Lima Langkah Tangani Paparan Abu Vulkanik Secara Aman
Langkah tepat saat terpapar abu vulkanik mencakup menjauh dari sumber, membersihkan tubuh dengan hati-hati, dan segera ke dokter jika gejala memburuk.
9 September 2026
Berita Lainnya

PAG Disejajarkan Singapura sebagai Pusat LNG Asia
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Bandara Soekarno-Hatta dan Lokasi Lain Segera Beroperasi Kembali
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Rabu, 9 September 2026, 07.36 WITA

Data Ekonomi India Dikritik, Mantan Pejabat Sebut Manipulasi Sistemik
Rabu, 9 September 2026, 07.34 WITA

Empat Lukisan Renoir Raib dari Museum di Prancis
Rabu, 9 September 2026, 07.34 WITA

48 Jam Listrik Padam, Warga Gambia Aksi Massal Tuntut Presiden Mundur
Rabu, 9 September 2026, 07.34 WITA

Warga Bantaran Rel Senen Diberi Hunian Sementara oleh Pemerintah
Rabu, 9 September 2026, 07.33 WITA

Warga Saudi Jadi Korban Penusukan di Mayfair, Polisi Tangkap Pelaku
Rabu, 9 September 2026, 07.33 WITA


