Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya

Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan campuran solar B50, memicu minat belajar dari Jepang hingga negara Eropa terkait implementasi dan regulasinya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 07.36 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indonesia telah mencatat sejarah sebagai negara pertama yang secara nasional menerapkan campuran biodiesel 50% dalam solar, atau B50, sejak 1 Juli 2026. Langkah ini tidak hanya menandai kemajuan dalam kebijakan energi nasional, tetapi juga memicu ketertarikan dari berbagai negara maju, termasuk Jepang dan sejumlah negara Eropa, yang kini berupaya mempelajari skema teknis dan regulasi yang telah berhasil dijalankan di Tanah Air.

Dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI, Dirjen EBTKE Kementerian ESDM menegaskan bahwa implementasi B50 menjadi bukti nyata atas komitmen Indonesia dalam memperkuat ketahanan energi dan memperluas pemanfaatan sumber daya lokal. Pencapaian ini, menurutnya, menempatkan Indonesia sebagai rujukan global dalam pengembangan bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit, mengungguli capaian negara lain yang masih berada di level B20 hingga B10.

Hingga 7 September 2026, distribusi biodiesel secara nasional telah mencapai 10,69 juta kiloliter, terdiri dari 7,273 juta KL B40 pada semester pertama dan 3,4 juta KL B50 yang telah disalurkan sejak Juli. Sebanyak 90% dari total 6.050 SPBU di seluruh Indonesia kini telah siap menyalurkan B50, sementara 76 dari 104 titik serah terminal bahan bakar telah beroperasi penuh dalam mendistribusikan bahan bakar campuran tersebut.

Proyeksi ekonomi menunjukkan bahwa B50 mampu menghemat devisa negara hingga Rp 170 triliun pada 2026, sekaligus menyerap 2,1 juta tenaga kerja dan mendorong nilai tambah industri kelapa sawit domestik mencapai Rp 20,92 triliun. Dengan memperbesar pemanfaatan bahan baku dalam negeri, kebijakan ini turut memperkuat kemandirian energi dan mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya