Data Ekonomi India Dikritik, Mantan Pejabat Sebut Manipulasi Sistemik
Mantan pejabat keuangan India menuding pemerintah memanipulasi data pertumbuhan ekonomi, menyebut angka 7,8% sebagai hasil rekayasa untuk tujuan politik.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 07.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Pertumbuhan ekonomi India yang dilaporkan mencapai 7,8% pada kuartal terbaru justru memicu kontroversi besar di tengah kecurigaan terhadap keakuratan data resmi. Subhash Garg, mantan Sekretaris Keuangan era Narendra Modi, menegaskan bahwa angka tersebut hasil rekayasa, dengan menunjuk revisi ke bawah PDB tahun sebelumnya sebagai alat utama untuk menggelembungkan angka pertumbuhan saat ini. Ia menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi sebenarnya hanya berada di kisaran 2,6%, jauh di bawah klaim resmi.
Kritik ini diperkuat oleh hasil penilaian Dana Moneter Internasional (IMF) yang memberikan peringkat 'C'—satu tingkat terendah—terhadap sistem akuntansi nasional India, menilai metodologi yang digunakan sudah usang dan data musiman tidak tersedia secara transparan. Ekonom R Nagaraj turut menyampaikan kekhawatiran atas kebiasaan pemerintah menekan hasil survei yang tidak menguntungkan, menunda publikasi data penting, bahkan mengganti pejabat yang kritis. Ia mengingat kasus pada 2014 saat angka PDB tiba-tiba naik 108% dari kesepakatan awal, yang kini dianggap sebagai awal dari pola manipulasi sistemik.
Ketidakpercayaan terhadap data semakin memburuk akibat penundaan sensus penduduk hingga April 2026, yang berdampak pada akurasi data dasar selama hampir lima tahun. Pada 2019, pemerintah juga diketahui menyembunyikan laporan pengangguran mencapai 6,1%—rekor tertinggi dalam 45 tahun—yang kemudian memicu pengunduran diri dua anggota Komisi Statistik Nasional. Kini, laporan Universitas Azim Premji menunjukkan hampir 40% lulusan muda di bawah 25 tahun tidak memiliki pekerjaan, sementara data pemerintah mencatat 87 juta pemuda tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak terlatih.
Pembelaan dari Shamika Ravi, anggota Dewan Penasihat Ekonomi Perdana Menteri, menyatakan bahwa peringkat 'C' IMF sama dengan yang diberikan kepada China, dan menekankan bahwa revisi data merupakan rekomendasi IMF. Namun, mantan Kepala Ahli Statistik India, Pronab Sen, menekankan bahwa masalah utama bukan pada peringkat, melainkan pada kepercayaan terhadap data dasar yang digunakan. Di lapangan, krisis nyata muncul: kebijakan yang didasarkan pada data yang diragukan berpotensi merugikan rakyat, termasuk sekitar 100 juta warga miskin yang kini kehilangan akses subsidi karena acuan populasi yang sudah kedaluwarsa.
Kontroversi ini juga menarik perhatian dunia internasional. Surat kabar harian Sri Lanka, Daily FT, secara terbuka memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak meniru praktik kebohongan statistik yang dikenal di India. Di tengah gelombang protes dari kalangan muda akibat kegagalan sistemik dalam pendidikan dan lapangan kerja, kritik terhadap integritas data ekonomi kini bukan lagi sekadar perdebatan teknis, melainkan isu kepercayaan publik yang menentukan masa depan kebijakan nasional.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Iritasi Kulit, Ini Penjelasannya
Partikel abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menyebabkan iritasi kulit, terutama pada orang dengan kulit sensitif atau barrier yang sudah rusak.
9 September 2026

Dua Masker Lebih Efektif? Ini Penjelasan Dokter Paru
Penggunaan dua masker, terutama tipe bedah, dinilai bisa meningkatkan perlindungan dari abu vulkanik meski belum ada bukti ilmiah pasti.
9 September 2026

Perlindungan Anabul Saat Hujan Abu Vulkanik
Pemilik hewan peliharaan di lima provinsi terdampak harus segera lindungi anabul dari paparan abu vulkanik dengan langkah-langkah praktis dan preventif.
9 September 2026

Lima Langkah Tangani Paparan Abu Vulkanik Secara Aman
Langkah tepat saat terpapar abu vulkanik mencakup menjauh dari sumber, membersihkan tubuh dengan hati-hati, dan segera ke dokter jika gejala memburuk.
9 September 2026
Berita Lainnya

Paparan Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis, Ini Penjelasan Ahli
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

PAG Disejajarkan Singapura sebagai Pusat LNG Asia
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Bandara Soekarno-Hatta dan Lokasi Lain Segera Beroperasi Kembali
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Rabu, 9 September 2026, 07.36 WITA

Empat Lukisan Renoir Raib dari Museum di Prancis
Rabu, 9 September 2026, 07.34 WITA

48 Jam Listrik Padam, Warga Gambia Aksi Massal Tuntut Presiden Mundur
Rabu, 9 September 2026, 07.34 WITA

Warga Bantaran Rel Senen Diberi Hunian Sementara oleh Pemerintah
Rabu, 9 September 2026, 07.33 WITA

Warga Saudi Jadi Korban Penusukan di Mayfair, Polisi Tangkap Pelaku
Rabu, 9 September 2026, 07.33 WITA


