Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Uang Primer Naik 16,3% di Agustus, Didorong Giro dan Uang Kartal

Pertumbuhan uang primer mencapai 16,3% tahunan pada Agustus 2026, didukung kenaikan giro bank umum dan uang kartal yang tetap tinggi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 07.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Uang Primer Naik 16,3% di Agustus, Didorong Giro dan Uang Kartal
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada bulan Agustus 2026, jumlah uang primer yang beredar di sistem keuangan mencapai Rp2.281,5 triliun, menunjukkan pertumbuhan sebesar 16,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini sedikit melambat dibandingkan pencapaian Juli 2026 yang mencatatkan pertumbuhan 17,1%, namun tetap menunjukkan momentum positif dalam dinamika likuiditas nasional. Perkembangan ini menjadi indikator utama atas kondisi likuiditas perbankan dan efektivitas kebijakan moneter yang diterapkan oleh otoritas keuangan.

Kenaikan uang primer didorong utama oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia yang mencapai 19,0% secara tahunan. Peningkatan ini mencerminkan ketersediaan likuiditas yang cukup di sektor perbankan, bahkan di tengah upaya pengendalian moneter yang dilakukan secara berkelanjutan. Di sisi lain, uang kartal yang beredar di masyarakat juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 12,9% (yoy), menunjukkan persistensi permintaan terhadap uang tunai oleh masyarakat.

Pertumbuhan kedua komponen ini menjadi penopang utama atas kenaikan uang primer, yang secara teknis dihitung dengan memperhitungkan dampak insentif likuiditas yang diberikan sebagai bagian dari kebijakan moneter. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan yang diterapkan mampu menjaga stabilitas sistem keuangan tanpa menimbulkan tekanan berlebihan terhadap likuiditas.

Perkembangan uang primer secara terus-menerus menjadi perhatian utama bagi pelaku pasar, karena mencerminkan kesehatan sistem keuangan dan efisiensi transmisi kebijakan moneter. Dengan pertumbuhan yang masih berada di zona dua digit, menunjukkan bahwa kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan secara konsisten.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya