Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Minyak Melonjak, Pasar Asia Tergoyang Akibat Ketegangan Timur Tengah

Lonjakan harga minyak akibat eskalasi AS-Iran picu volatilitas di bursa Asia, sementara pasar memantau kebijakan moneter AS dan dampak inflasi yang menguat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 22.33 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Minyak Melonjak, Pasar Asia Tergoyang Akibat Ketegangan Timur Tengah
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pasar saham Asia-Pasifik mengalami pergerakan bervariasi pada awal perdagangan Selasa (8/9/2026), dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang memburuk setelah Amerika Serikat dan Iran saling menyerang dalam akhir pekan. Indeks Kospi Korea Selatan mampu naik 0,75% pada pembukaan, sementara Nikkei 225 Jepang turun 0,95% dan S&P/ASX 200 Australia melemah 0,22%. Pergerakan ini terjadi di tengah kenaikan tajam harga minyak mentah yang mencapai level tertinggi dalam enam pekan.

Harga minyak Brent melonjak 1,1% menjadi US$97,31 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) futures naik 1,3% ke US$92,66 per barel. Kenaikan ini didorong oleh perang dagang dan konflik militer yang berlanjut antara AS dan Iran. Lonjakan energi tersebut menimbulkan kekhawatiran baru terhadap inflasi global, yang berpotensi menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun telah mencapai level tertinggi sejak November 2023, sementara tenor dua tahun menyentuh puncak terbaru sejak Januari 2025.

Para analis memperkirakan bahwa pertemuan bank sentral dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi penentu utama stabilitas pasar. Ed Yardeni dari Yardeni Research menekankan bahwa kenaikan imbal hasil global mencerminkan ketidakpastian — apakah menunjukkan pertumbuhan ekonomi lebih kuat dari ekspektasi, inflasi yang melonjak, atau ancaman krisis utang fiskal. Federal Reserve dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan moneter pekan depan, dengan pasar memperkirakan peluang 60% bagi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Namun, ekspektasi tersebut masih rentan berubah, terutama jika harga minyak terus melonjak akibat ketegangan di Timur Tengah. Data inflasi tingkat grosir dan konsumen yang akan dirilis pada Kamis dan Jumat mendatang juga berpotensi mengubah arah kebijakan The Fed. Di sisi lain, ketegangan perdagangan antara AS dan Kanada turut menambah ketegangan pasar, dengan Kanada yang siap menerapkan tarif balasan terhadap produk AS senilai US$20 miliar sejak Selasa.

Presiden AS Donald Trump juga mengancam memblokir impor pesawat dari Bombardier, produsen asal Kanada, kecuali perusahaan tersebut memproduksi di AS. Pernyataan ini disampaikan melalui platform Truth Social menjelang pelaksanaan tarif baru. Kombinasi ancaman geopolitik, tekanan inflasi, dan ketidakpastian kebijakan moneter menjadikan pasar global tetap sensitif terhadap perubahan kecil.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya