Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Utang Kereta Cepat Direstrukturisasi, Cicilan 80 Tahun Dimulai 2026

Pemerintah resmi menetapkan cicilan utang Kereta Cepat Whoosh hingga 80 tahun, dengan beban tahunan sekitar Rp1 triliun, ditangani melalui entitas khusus di bawah Kemenkeu.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 22.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Utang Kereta Cepat Direstrukturisasi, Cicilan 80 Tahun Dimulai 2026
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Keuangan telah menetapkan skema pembayaran utang proyek Kereta Cepat Whoosh yang direstrukturisasi hingga jangka waktu 80 tahun, menurut pernyataan resmi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Dengan tenor yang panjang tersebut, beban pembayaran tahunan diproyeksikan mencapai sekitar Rp1 triliun per tahun, meski fluktuasi terjadi antartahun. Purbaya menegaskan bahwa beban keuangan tersebut masih dalam kapasitas yang dapat dikelola oleh negara tanpa menimbulkan tekanan fiskal signifikan.

Pembayaran kewajiban utang tersebut akan dipindahkan dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara ke Kementerian Keuangan mulai 15 September 2026. Selanjutnya, pengelolaan akan dilakukan melalui entitas khusus, seperti Special Mission Vehicle (SMV) atau Indonesia Investment Authority (INA), yang akan menjadi wadah utama penanggung jawab pembayaran. Purbaya menekankan bahwa tidak perlu mencari investor baru, karena sumber daya keuangan yang tersedia sudah cukup memadai.

Ia menjelaskan bahwa SMV yang berada di bawah naungan Kemenkeu memiliki potensi pendapatan tahunan mencapai Rp3 hingga Rp4 triliun, ditambah pendapatan operasional sekitar Rp800 miliar. Dengan demikian, keberadaan satu entitas SMV saja dinilai cukup mampu menangani kewajiban tahunan tanpa harus mengandalkan dana tambahan dari luar. Proses finalisasi skema pengelolaan masih dalam tahap perhitungan mendalam, namun pemerintah menegaskan kesiapan fiskal untuk menjalankannya.

Pembahasan ini dilakukan dalam konteks rapat koordinasi di kompleks Istana Kepresidenan, di mana Purbaya menegaskan bahwa keputusan ini bukan hanya bentuk kehati-hatian, tetapi juga strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas anggaran negara. Dengan cicilan yang di-stretch selama delapan dekade, pemerintah memastikan bahwa beban fiskal tidak menimbulkan dampak signifikan bagi generasi mendatang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya