Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Asing Lepas Saham Unggulan, Tekanan ke IHSG

Investor asing catatkan penjualan bersih Rp678,55 miliar, dengan Chandra Asri jadi saham paling banyak dilego pada perdagangan Senin (7/9/2026).

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 22.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Asing Lepas Saham Unggulan, Tekanan ke IHSG
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada perdagangan Senin, 7 September 2026, menunjukkan penurunan sebesar 16,81 poin atau 0,25% ke level 6.619,67. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi jual bersih asing yang signifikan, mencapai Rp678,55 miliar. Dengan nilai pembelian asing sebesar Rp3,08 triliun, penjualan asing mencapai Rp3,76 triliun, menunjukkan dominasi penjualan dalam pasar reguler dan tunai.

TPIA menjadi saham dengan tekanan jual terbesar, dengan nilai penjualan bersih asing mencapai Rp121,18 miliar. Perusahaan petrokimia ini menjadi sorotan utama, seiring melemahnya sektor bahan baku secara keseluruhan. Di posisi berikutnya, saham CUAN tercatat dilego asing sebesar Rp87,94 miliar, disusul ISAT dengan Rp64,85 miliar dan KLBF sebesar Rp62,26 miliar. Ketiga emiten ini mengalami tekanan jual yang menggambarkan sentimen negatif terhadap sektor teknologi dan kesehatan.

Sektor perbankan juga menjadi sasaran penjualan asing, memperparah tekanan terhadap indeks. BMRI tercatat mengalami penjualan bersih asing Rp53,67 miliar, BBRI sebesar Rp53,55 miliar, dan BBCA mencatat penjualan bersih Rp39,25 miliar. Ketiga emiten bank terbesar ini turut berkontribusi terhadap penurunan indeks, menunjukkan kecenderungan relokasi dana oleh investor asing dari sektor keuangan.

Lanjutnya, emiten lain yang ikut menjadi sasaran penjualan asing antara lain CPIN, INET, dan DSSA, masing-masing dengan nilai penjualan bersih Rp39,15 miliar, Rp38,07 miliar, dan Rp33,53 miliar. Kombinasi penjualan asing di sektor strategis seperti industri, kesehatan, dan perbankan menunjukkan kembali kecenderungan likuiditas yang lebih hati-hati di tengah fluktuasi pasar global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya